Jangan Remehkan Asap Rokok di Sekitar, Dokter Jelaskan Risikonya Sama dengan Perokok Aktif
BERITA TERBARU INDONESIA, TANGERANG — Asap rokok tak hanya berbahaya bagi perokok aktif, tetapi juga merupakan ancaman serius bagi perokok pasif. Sering kali dianggap remeh, paparan asap rokok dari lingkungan sekitar dapat menimbulkan dampak kesehatan yang sama bahayanya, bahkan sebanding dengan risiko yang dihadapi oleh perokok aktif.
“Contohnya adalah penyakit kardiovaskular, kanker paru-paru, infeksi saluran pernapasan (terutama pada anak-anak), asma dan alergi, serta peningkatan risiko Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS),” ujar spesialis paru Eka Hospital Cibubur, dr. Paulus Arka Triyoga, dalam keterangannya di Tangerang pada Sabtu (31/5/2025).
Ia menjelaskan bahwa merokok adalah faktor utama masalah paru-paru yang sering terjadi baik di Indonesia maupun dunia. “Asap rokok mengandung ribuan senyawa kimia berbahaya yang dapat menyerang organ-organ vital tubuh. Bahaya rokok tidak hanya dialami oleh perokok aktif, tapi juga oleh perokok pasif,” katanya.
Dia menambahkan bahwa paparan zat-zat berbahaya dalam rokok menimbulkan kerusakan signifikan pada berbagai sistem organ, termasuk sistem pernapasan, kardiovaskular, saraf pusat, mata, hingga kulit.
Paru-paru, katanya, merupakan organ yang paling rentan terhadap dampak negatif merokok. “Inhalasi asap rokok secara kronis menyebabkan kerusakan ireversibel pada alveoli dan memicu perkembangan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), termasuk emfisema dan bronkitis kronis,” katanya.
Selain itu, risiko kanker paru-paru meningkat secara signifikan pada orang yang memiliki riwayat merokok aktif. “Merokok juga dapat meningkatkan risiko terkena infeksi seperti tuberkulosis (TBC) dan pneumonia. Penumpukan tar pada paru menghambat fungsi pernapasan Anda secara perlahan-lahan,” katanya.
Nikotin dan karbon monoksida dalam asap rokok mengakibatkan peningkatan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung, memaksa jantung bekerja lebih keras dan meningkatkan peluang munculnya penyakit jantung koroner, infark miokardium, serta stroke.
“Proses aterosklerosis, yakni penyempitan pembuluh darah akibat pembentukan plak pada dinding arteri, juga dipercepat oleh kebiasaan merokok,” ujarnya.
Nikotin juga memiliki sifat adiktif yang kuat dan mempengaruhi kimia otak. Selain itu, penurunan aliran darah serebral akibat penyempitan pembuluh darah dapat mengganggu fungsi kognitif dan meningkatkan kerentanan terhadap stroke.
Merokok dalam jangka panjang dapat mempengaruhi penglihatan dan saraf optik, menyebabkan gangguan seperti glaukoma, katarak, dan degenerasi makula.
“Dampak lain dari merokok adalah mempercepat proses penuaan kulit melalui kerusakan serat kolagen dan elastin. Akibatnya, kulit kehilangan elastisitas, menjadi lebih keriput, tampak kusam, dan mengalami penurunan kemampuan regenerasi. Proses penyembuhan luka pada perokok juga cenderung lebih lambat,” ujarnya.
