Skip to content
logo-Berita-Terkini-Indonesia

BTI

Liputan Berita Terkini Indonesia

Primary Menu
  • Home
  • pemerintahan
  • Politik dan Hukum
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Hak Asasi Manusia
  • Home
  • Berita
  • Gaza: Hayya 3, Cerita Perjuangan Rakyat Palestina dari Balik Layar Bioskop Indonesia
  • Berita

Gaza: Hayya 3, Cerita Perjuangan Rakyat Palestina dari Balik Layar Bioskop Indonesia

Rina Kartika Juni 2, 2025
gaza-hayya-3-kisah-perjuangan-palestina-dari-balik-lensa-bioskop-indonesia

Gaza: Hayya 3, Cerita Perjuangan Rakyat Palestina dari Balik Layar Bioskop Indonesia

BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA —

Di tengah ketegangan yang terus berlangsung di Jalur Gaza dan Tepi Barat, hadir sebuah karya sinematik dari Indonesia yang mengangkat suara perjuangan Palestina. Film Gaza: Hayya 3 merupakan bagian dari trilogi yang konsisten menyoroti isu kemanusiaan dan pendudukan di Palestina, kali ini dengan perhatian yang lebih mendalam pada alasan mengapa dunia perlu membela rakyat Palestina.

Film ini menjadi relevan mengingat situasi di Gaza, di mana menurut Klaster Kesehatan Daerah Pendudukan Palestina, hingga 30 Mei 2025, serangan Israel telah mengakibatkan lebih dari 54 ribu nyawa melayang dan lebih dari 124 ribu orang terluka. Produksi film ini digagas oleh eksekutif produser Ustadz Erik Yusuf, sutradara Jastis Arimba, dan aktor Andy Boim, yang semua memiliki visi kuat untuk menyuarakan solidaritas terhadap Palestina melalui medium film. Film ini merupakan kelanjutan dari dua film sebelumnya, Hayya (2018) dan Hayya 2 (2021).

Menurut Ustadz Erik Yusuf, Gaza: Hayya 3 sengaja dibuat untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang mengapa pembelaan terhadap Palestina adalah sebuah keharusan. “Kami konsisten membuat film-film tentang Palestina. Yang pertama dan kedua membangun kesadaran, apa sih itu Palestina, karena kami produksi sebelum 7 Oktober (2023) lalu, sedangkan yang ketiga ini lebih tegas menyuarakan mengapa kita harus membela mereka,” ujar Erik saat berkunjung ke kantor BERITA TERBARU INDONESIA pada Jumat (30/5/2025).

Film pertama, Hayya, berkisah tentang bantuan kemanusiaan Indonesia untuk Palestina, termasuk cerita seorang anak Palestina yang melarikan diri dari penindasan dan tiba di Indonesia. Sementara itu, Hayya 2, yang diproduksi saat pandemi, mengangkat tema kehilangan melalui pertemuan pasangan yang berduka dengan karakter dari film pertama.

Gaza: Hayya 3 hadir di tengah momen yang sangat krusial, terutama pascaserangan Israel ke Gaza setelah 7 Oktober 2023. Film ini diharapkan dapat menjawab berbagai pertanyaan mendasar yang muncul di masyarakat.

“Film ini menjawab pertanyaan mengapa kita harus membela Palestina, mengapa boikot produk pendukung Zionis penting, dan bagaimana sejarah panjang pendudukan Palestina,” ujar Erik.

Ia juga menambahkan bahwa film ini menyisipkan fakta sejarah untuk memberikan pemahaman utuh tentang konflik yang terjadi. “Banyak yang belum paham mengapa dunia bergerak untuk Palestina. Film ini akan menjawabnya,” kata Erik.

Sang sutradara, Jastis Arimba, mengungkapkan bahwa Gaza: Hayya 3 adalah karya yang sangat pribadi baginya. “Ini karya yang sangat personal. Sejak kuliah, isu Palestina sudah dekat dengan saya, dan lingkungan saya pun punya kepedulian yang sama,” ujarnya.

Tantangan utama bagi Jastis adalah bagaimana menyajikan pesan serius tentang Palestina dalam format hiburan yang bisa mengedukasi sekaligus mengajak penonton berefleksi. “Film itu produk hiburan, tapi juga mengedukasi. Kami ingin penonton bisa merefleksikan diri: Bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap Palestina?” kata dia.

Untuk mendekatkan isu Palestina kepada penonton, Jastis dan tim kreatif, termasuk penulis Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, memilih pendekatan drama keluarga. Film ini memperkenalkan karakter Abdullah Gaza, seorang anak yatim piatu yang ayahnya seorang relawan kemanusiaan meninggal saat bertugas di Palestina. “Nama Abdullah Gaza sengaja dipilih sebagai simbol ketangguhan. Dia tinggal di panti asuhan yang dikelola Ustadz Yusuf (diperankan Erik Yusuf) dan Oki Setiawati, di mana ia bertemu Hayya, anak Palestina yang terjebak di Indonesia setelah peristiwa 7 Oktober.

Salah satu elemen yang menarik dan kuat dalam film ini adalah kehadiran Benileta Neyahu, karakter antagonis yang secara sengaja dirancang sebagai personifikasi Zionisme dalam kehidupan sehari-hari. “Kami ingin penonton bertanya: Jangan-jangan sifat Zionis—seperti sombong, suka menindas yang lemah—ada dalam diri kita?. Karakter ini sengaja dibuat sangat dibenci, dan respons penonton sejauh ini sangat kuat,” ujar Jastis.

Selain itu, film ini juga mengangkat tema parenting melalui perbandingan dua keluarga yang sama-sama tidak dikaruniai anak, namun memiliki respons yang kontras. Ada pasangan Dewi dan Sulaiman (diperankan Mario Irwinsyah) yang memilih mendirikan panti asuhan, dan pasangan lain yang justru terjerumus melakukan kejahatan. “Kami ingin menggambarkan masalah penindasan dan kekerasan bisa terjadi di mana saja, bahkan dalam lingkup keluarga,” kata Jastis.

Aktor Andy Boim, yang dikenal dengan peran komedinya, kali ini tampil serius sebagai Boim, seorang wartawan yang gigih memperjuangkan Palestina. “Ini proyek yang sangat sentimental. Biasanya saya suka bercanda, tapi di film ini, saya langsung auto serius setiap kali ingat saudara-saudara kita di Gaza yang bahkan makan pun tak memikirkan rasa, hanya ingin bertahan hidup, saya langsung terbawa emosi,” kata Boim.

Menurut Boim, kekuatan utama Gaza: Hayya 3 terletak pada kemampuannya menyampaikan pesan berat dengan cara yang mudah dicerna dan tidak membosankan. “Penonton tidak akan bosan karena ceritanya menarik. Tapi tanpa disadari, mereka akan terhanyut dalam refleksi: Kenapa saya benci karakter ini? Oh, ternyata karena dia mewakili sifat-sifat yang selama ini kita tentang di dunia nyata,” ujarnya.

Boim menyebut film ini sebagai paket lengkap yang menghadirkan tema keluarga, sosial, dan spiritual. “Film ini luar biasa. Bahkan saya sendiri heran bisa nggak ngejokes sama sekali saat syuting. Emosi saya benar-benar tertuju pada pesan yang ingin disampaikan,” ujarnya.

Film Gaza: Hayya 3 dijadwalkan segera tayang di bioskop Indonesia. Erik Yusuf berharap film ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi dan pendorong bagi lebih banyak orang untuk mendukung kemerdekaan Palestina. “Kami ingin penonton tidak hanya menangis atau terharu, tapi juga tergerak untuk berkontribusi, baik melalui donasi, kampanye, atau tekanan politik,” ujar Erik.

Continue Reading

Previous: Ketika Nilai Kejujuran Terpinggirkan oleh Sistem Digital
Next: Tiga Pilihan Pengembalian Patuna Travel Setelah Visa Furoda Tidak Diterbitkan

Related News

  • Berita

Juru Bicara Gus Yaqut Tanggapi Larangan Bepergian KPK, Berikan 4 Pernyataan

Dewi Anjani Agustus 12, 2025
lewat-gpm-polres-indramayu-jaga-stabilitas-harga-dan-ringankan-beban-masyarakat
  • Berita

Melalui GPM, Polres Indramayu Pertahankan Stabilitas Harga dan Bantu Masyarakat

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
kereta-pelabuhan-dan-terminal-di-sulsel-akan-terhubung-begini-rencana-kemenhub
  • Berita

Integrasi Kereta, Pelabuhan, dan Terminal di Sulsel: Rencana Kemenhub

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
auto7slot auto7slot auto7slot

You may have missed

  • Berita

Juru Bicara Gus Yaqut Tanggapi Larangan Bepergian KPK, Berikan 4 Pernyataan

Dewi Anjani Agustus 12, 2025
lewat-gpm-polres-indramayu-jaga-stabilitas-harga-dan-ringankan-beban-masyarakat
  • Berita

Melalui GPM, Polres Indramayu Pertahankan Stabilitas Harga dan Bantu Masyarakat

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
kereta-pelabuhan-dan-terminal-di-sulsel-akan-terhubung-begini-rencana-kemenhub
  • Berita

Integrasi Kereta, Pelabuhan, dan Terminal di Sulsel: Rencana Kemenhub

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
viral-meme-tanah-nganggur-diambil-negara-menteri-nusron-minta-maaf-ini-penjelasan-maksudnya
  • Berita

Meme Tanah Nganggur Jadi Viral, Menteri Nusron Meminta Maaf, Berikut Penjelasannya

Dedi Saputra Agustus 12, 2025
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.