Keteguhan Hati Nabi Ibrahim
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Seorang hamba dan kekasih Allah SWT yang memiliki keteguhan iman yang sangat kuat dikenal sebagai ulul azmi. Gelar ini adalah kedudukan yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang mampu menghadapi ujian besar dengan kesabaran dan keimanan yang teguh.
Salah satu hamba Allah SWT yang dianugerahi gelar ulul azmi adalah Nabi Ibrahim AS, yang juga dikenal dengan sebutan Abu al-Anbiya (Bapak para nabi).
Nabi Ibrahim disebut demikian karena banyak dari keturunannya yang menjadi nabi, seperti Nabi Ishaq, Nabi Yaqub, Nabi Yusuf, Nabi Ismail, dan Nabi Muhammad SAW. Cobaan yang dialami oleh Nabi Ibrahim begitu berat, dan gelar ini diberikan Allah kepadanya sebagai penghargaan atas ketaatan, keikhlasan, dan keimanannya yang tinggi.
Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah Nabi Ibrahim dalam menghadapi ujian yang datang dari Allah SWT.
Setidaknya ada empat ujian yang diberikan kepada Nabi Ibrahim AS oleh Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam buku yang berjudul Buku Pintar Puasa Ramadhan, Zakat Fitrah, Idul Fitri, Idul Adha, Maulid Nabi karya Abul Abbas Zain Musthofa al-Basuruwani.
Dibakar oleh Raja Namrud
Nabi Ibrahim lahir di Fadan Aram, Irak, di tengah masyarakat penyembah berhala, termasuk ayahnya sendiri, Tarah, yang juga dikenal sebagai Azar (nama sebuah berhala). Raja yang berkuasa saat itu bernama Namrud. Nabi Ibrahim AS berusaha mengajak ayahnya untuk beriman, namun ayahnya berkata, “Apakah kamu membenci tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka sungguh aku akan merajammu. Tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.”
Setelah itu, Nabi Ibrahim menghancurkan patung berhala mereka. Akibatnya, Raja Namrud memerintahkan rakyatnya untuk membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup. Namun, api yang menyala-nyala untuk membakar Nabi Ibrahim menjadi dingin atas perintah Allah SWT. Dalam Alquran surat Anbiya ayat 69, Allah SWT berfirman, “Kami Allah berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!'”
Setelah peristiwa tersebut, Nabi Ibrahim bersama istrinya hijrah ke Syam untuk beribadah dengan tenang.
Diperintahkan untuk Berkhitan
Pada usia 99 tahun, Nabi Ibrahim AS diperintahkan oleh Allah SWT untuk berkhitan. Maka, beliau pun berkhitan bersama putranya Ismail yang berusia 13 tahun. Sejak saat itu, Nabi Ibrahim mulai melaksanakan khitan dalam keluarganya.
