Mengapa ‘Daging Ulama’ Dianggap ‘Beracun’?
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Nabi Muhammad SAW telah menasihati umatnya agar selalu berpegang teguh pada Alquran dan Sunnahnya. Setelah beliau wafat, orang-orang yang menjadi sumber rujukan dikenal dengan sebutan ulama.
Mengacu pada buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, dalam Alquran istilah ulama disebutkan dua kali, yakni pada surah asy-Syu’ara ayat 197 dan Fathir ayat 28.
- Cara Membersihkan Pakaian yang Terkena Darah Haid
- Tips Memasak Daging Kambing Qurban agar Empuk dan Tidak Berbau
- Sejarah Izin Tambang Nikel di Raja Ampat, Kontrak Karya Sejak 1998
Yang pertama membahas tentang ulama Bani Israil dan yang lainnya mengenai ulama kauniyah. Peran sentral ulama telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits. Mereka bahkan dianggap sebagai pewaris para nabi dan rasul.
Secara kebahasaan, ulama adalah bentuk jamak dari alim yang berarti orang berpengetahuan, ahli ilmu, atau ilmuwan. Berbeda dengan kata ulama, istilah alim lebih sering muncul dalam Alquran, sebanyak 140 kali. Semuanya merujuk pada salah satu Asma al-Husna, al-‘Alim, yaitu Allah Yang Mahamengetahui.
Dalam pandangan Islam, ulama memiliki posisi yang tinggi. Surah az-Zumar ayat 9 menunjukkan bahwa Allah SWT mengisyaratkan tidak sama antara orang musyrik dan orang yang taat beribadah karena takut dan penuh harapan pada Sang Pencipta.
Ayat yang sama juga diakhiri dengan pertanyaan retoris, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.’
Seorang ulama terkenal pada zaman klasik, Ibnu Asakir, pernah memperingatkan agar orang-orang berhati-hati menjaga lisan dan perbuatan. Jangan sampai menghina, merendahkan, atau menyakiti perasaan ulama. Sebab, posisi ulama berbeda dari orang biasa, termasuk penguasa.
“Saudaraku, ketahuilah bahwa daging para ulama itu beracun,” ujar pakar hadits dan sejarawan dari Damaskus (Suriah) tersebut, seperti dikutip dari buku Tasawuf dan Ihsan.
Apa maksud dari ‘daging ulama beracun’? Artinya, siapa pun yang memfitnah mereka, akan mengalami nasib buruk; seperti tubuh yang terkena racun.
Alquran pada surah al-Hujurat ayat 12, menggambarkan perbuatan menggunjing atau mencari-cari keburukan orang lain sebagai “memakan daging saudara sendiri yang telah mati.”
