Musisi Inggris Dokumentasikan Suara Perubahan Iklim di Arktik
BERITA TERBARU INDONESIA, LONDON – Sarah Smout, musisi dan penyair dari Inggris, membawa cellonya ke hamparan es di Arktik untuk menangkap suara perubahan iklim. Ia menggabungkan musik dan suara alam dalam sebuah proyek album yang terinspirasi langsung dari keindahan dan kerentanan lanskap es tersebut.
Bersama sekelompok seniman internasional, Smout melakukan ekspedisi selama 16 hari di wilayah Lingkaran Arktik, tepatnya di Kepulauan Svalbard, Norwegia. Dalam suhu ekstrem minus 15 derajat Celsius, ia menyaksikan langsung dampak perubahan iklim, seperti retakan es dan situasi berbahaya yang memaksa mereka untuk kembali ke kapal.
“Musik adalah cara yang luar biasa untuk menyatukan orang, menyentuh hati dan pikiran mereka, serta menginspirasi mereka untuk membuat keputusan sendiri demi perubahan yang positif,” ungkap Smout.
Rekaman suara yang ia kumpulkan, termasuk suara gletser yang retak, akan menjadi bagian utama dalam album debutnya. Dengan bantuan hidrofon, Smout merekam suara-suara bawah laut dan menciptakan narasi sonik tentang krisis iklim di Arktik.
Smout menyebut Arktik sebagai tempat paling dramatis yang menunjukkan kecepatan perubahan iklim. “Meskipun tempat itu jauh, apa yang terjadi di sana berdampak pada kita semua,” ujarnya.
Cello yang digunakannya, bernama Bernard, memiliki badan dari karbon yang tahan cuaca ekstrem. Bersama cello tersebut, Smout telah menjelajahi berbagai lanskap alam, namun pengalaman di Arktik ia katakan sebagai yang paling memicu kreativitas.
Ia berharap proyek musik ini dapat membangun koneksi emosional antara publik dan lingkungan Arktik. “Saya ingin orang-orang mendengar sendiri apa yang sedang terjadi, dan merasa tergerak untuk melindungi dunia yang kita bagi bersama,” katanya.
