Haji dan Makna Kesederhanaan
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga (HR at-Thabrani dari Ibnu Abbas). Seseorang yang hajinya diterima pasti akan menunjukkan sifat-sifat ahli surga di dunia ini.
Ciri-ciri ahli surga secara umum adalah ketakwaan dalam kehidupan. Sifat-sifat muttaqin banyak disebutkan dalam Alquran, seperti dalam surah al-Baqarah ayat kedua hingga keempat, atau Ali Imran ayat ke-133 hingga 135.
Perilaku ahli surga adalah amalan yang dicintai Allah, berbeda dengan sifat ahli neraka. Salah satu sifat ahli neraka adalah hidup dalam kemewahan.
“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah” (QS al-Waqi’ah: 41-45).
Kehidupan bermewah-mewahan berdampak negatif pada individu dan masyarakat. Pertama, dapat menyebabkan kurangnya ketaatan dalam menunaikan kewajiban agama. Kedua, cenderung mencari pendapat ulama yang paling ringan dalam segala hal, dan mudah melanggar yang haram. Ketiga, terjebak dalam hal-hal remeh.
Keempat, dapat menyebabkan hati menjadi keras, sering melupakan ilmu karena tenggelam dalam kemewahan. Kelima, jarang melakukan introspeksi diri. Keenam, kurang mampu menanggung beban hidup yang berat dan menghadapi berbagai ujian. Ketujuh, orang yang hidup bermewah-mewahan sering menyimpang dari jalan yang benar, sombong, dan meremehkan orang lain.
Kemewahan dalam hidup dapat mendorong seseorang jatuh ke dalam korupsi, kolusi, dan nepotisme. Oleh karena itu, Islam melarang kehidupan yang berlebihan.
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah ketika memasuki masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS al-A’raf [7]; 31).
Rasulullah SAW menegaskan, “Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan kesombongan” (HR Ahmad dan Abu Daud).
Haji disyariatkan agar umat Islam mengambil banyak manfaat dan hikmah (QS al-Hajj [22]; 27-28). Di antara hikmahnya adalah memperbanyak zikir, mempererat ukhuwah, membiasakan kesabaran, mengikis rasa sombong, dan memperkuat kesederhanaan dalam hidup, serta menjauhi kemewahan.
Salah satu rukun haji adalah ihram. Saat ihram, laki-laki mengenakan dua helai kain putih sebagai sarung dan selendang. “Hendaklah salah seorang dari kalian berihram dengan menggunakan sarung dan selendang serta sepasang sandal” (HR Ahmad: 2/34).
