Skytrain Tembus Tangsel Hingga Bogor Sedang Dipertimbangkan
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Kementerian Perhubungan tengah meneliti kemungkinan penggunaan skytrain yang akan menghubungkan wilayah Tangerang Selatan dan Bogor. Skytrain ini diproyeksikan sebagai moda pengumpan (feeder) yang akan memperkuat jaringan transportasi massal seperti MRT Jakarta dan LRT Jabodebek.
“Memang ada rencana untuk mengembangkan seperti MRT, namun sistemnya saat ini sedang dievaluasi,” ujar Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Suntana saat ditemui di acara Konferensi Infrastruktur Internasional 2025 di Jakarta, Rabu (11/6/2015).
Saat ini, kajian telah memasuki tahap detail engineering design (DED) untuk menentukan jenis feeder yang sesuai, salah satunya adalah opsi penggunaan kereta gantung (skytrain) sebagai solusinya.
“Kami menggunakan DED, ada yang menggunakan kereta di atas seperti MRT, dan ada yang di bawah, bergantung pada ketersediaan lahan. Juga ada teknologi baru seperti kereta api gantung,” jelasnya.
Menurutnya, pengembangan moda transportasi baru seperti kereta gantung juga sedang dievaluasi karena dianggap efisien, hemat biaya, dan minim gangguan terhadap lingkungan perkotaan yang padat.
“Kami akan memilih yang efisien, biayanya tidak terlalu mahal, dan pentingnya ketersediaan lahan serta tidak merusak lingkungan. Itu yang akan kami pertimbangkan,” katanya.
Suntana menjelaskan pemilihan moda transportasi, baik yang di atas, bawah tanah, maupun gantung, akan ditentukan berdasarkan efisiensi biaya dan ketersediaan lahan di sepanjang jalur yang direncanakan. Ia berharap proyek ini tidak hanya akan memindahkan lebih banyak orang ke angkutan umum, tetapi juga mengurangi kemacetan dan memperbaiki kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya.
“Ini agar masyarakat tertarik menggunakan transportasi umum sehingga kemacetan perlahan berkurang karena lebih banyak orang beralih ke transportasi massal,” tambahnya.
Dengan demikian, kata dia, polusi udara di Jakarta akan semakin membaik. Fokus utama rencana pembangunan transportasi publik ini adalah memenuhi kebutuhan konektivitas dari wilayah Jonggol, Bogor Timur, hingga Cibubur dan BSD menuju Lebak Bulus.
“Nantinya akan terhubung dengan sarana transportasi yang sudah ada,” jelas Suntana.
Ia juga menambahkan, pembangunan tidak hanya terbatas pada moda MRT, tetapi semua opsi tetap terbuka selama efisien dan mendukung integrasi antarmoda yang ada.
“Semua kemungkinan bisa dilakukan, baik MRT maupun LRT,” tuturnya.
Wamenhub melanjutkan, “Pemerintah Daerah Jakarta, Jawa Barat, dan teman-teman dari pemerintah provinsi saat ini sedang ingin membangun sarana transportasi massal, kereta api, dan lainnya. Kemungkinan itu bisa terjadi, kami tidak membatasi harus MRT atau LRT.”
