BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Tahun 2024 menjadi periode penuh tantangan bagi PT Pertamina (Persero).
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengungkapkan bahwa Pertamina menghadapi berbagai tantangan seperti pergolakan geopolitik, fluktuasi harga minyak dunia yang cenderung menurun, serta pelemahan nilai tukar rupiah sepanjang tahun lalu.
“Namun, kita harus bersyukur, Pertamina mampu bertahan dalam menghadapi dinamika tersebut dan terus menjaga kinerja perusahaan tetap positif,” ujar Simon dalam konferensi pers mengenai pencapaian kinerja Pertamina 2024 di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (13/6/2025).
Simon menilai ini menunjukkan keberhasilan Pertamina dalam beradaptasi dan memiliki daya tahan yang kuat. Sebagai garda terdepan dalam menjaga ketahanan energi nasional, Simon menyatakan bahwa seluruh lini bisnis Pertamina bergerak secara sinergis untuk memperkuat empat aspek utama, yaitu ketersediaan, aksesibilitas, keterjangkauan, dan penerimaan sepanjang tahun 2024.
Simon menyatakan total produksi migas juga terjaga di atas satu juta barel setara minyak (BOEPD) dengan kontribusi sebesar 69 persen untuk lifting migas dan 37 persen lifting gas nasional. Simon menyebutkan bahwa Pertamina menargetkan produksi minyak domestik mencapai satu juta barel per hari (BOPD) pada 2030 atau lebih cepat.
“Ini adalah tugas besar untuk Pertamina dan kita semua memiliki peran penting di dalamnya. Bukan hanya untuk menjaga ketahanan energi, tapi juga untuk menjaga kedaulatan energi bangsa,” tambah Simon.
Simon menyampaikan bahwa kilang Pertamina juga mampu memenuhi kebutuhan 70 persen BBM nasional. Dia menjelaskan bahwa peningkatan produksi kilang akan terus ditingkatkan, salah satunya melalui percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis.
“Keberhasilan proyek-proyek ini tidak hanya akan meningkatkan kapasitas dan efisiensi, tapi juga menentukan daya saing Pertamina dalam jangka panjang,” lanjut Simon.
Simon menyatakan bahwa Pertamina juga telah melakukan digitalisasi untuk memperkuat rantai pasok dan keandalan aset operasional, termasuk distribusi penyaluran produk subsidi PSO. Simon menegaskan bahwa Pertamina juga memperkuat sistem pemantauan untuk memastikan energi yang disalurkan bermanfaat bagi masyarakat.
“Untuk aspek aksesibilitas dan keterjangkauan, kami juga terus memperluas akses energi hingga ke wilayah 3T melalui pembangunan Pertashop BBM satu harga serta jaringan distribusi LPG dan gas rumah tangga,” ucap Simon.
Simon menyampaikan bahwa Pertamina mengoperasikan lebih dari 33 ribu km pipa transmisi dan distribusi gas serta sekitar 820 ribu sambungan jaringan gas rumah tangga. Pertamina, lanjut Simon, mengoperasikan 288 armada kapal yang mendukung kelancaran distribusi energi ke seluruh penjuru negeri.
“Selain itu, Pertamina meningkatkan penggunaan produk dalam negeri dengan realisasi belanja nasional mencapai Rp 415 triliun yang memberikan kontribusi pada 4,1 juta lapangan kerja dan meningkatkan PDB nasional hingga Rp 702 triliun pada 2024,” kata Simon.
