HSBC, WRI, dan WWF Mendorong Industri Rendah Karbon
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Upaya untuk menerapkan dekarbonisasi di sektor industri terus digalakkan sebagai langkah strategis menuju ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Efisiensi energi serta penggunaan energi terbarukan dianggap sangat penting, terutama mengingat sektor industri berkontribusi sepertiga dari total emisi nasional.
Salah satu inisiatif yang aktif dalam mendorong perubahan ini adalah Climate Solutions Partnership (CSP), sebuah kolaborasi antara World Resources Institute (WRI) Indonesia, WWF-Indonesia, dan PT Bank HSBC Indonesia. Program ini telah berjalan selama lima tahun dengan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi emisi di sektor industri.
- Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel
- Kemenperin Genjot Kawasan Industri Hijau, Targetkan Dekarbonisasi Manufaktur
- MIND ID Genjot Dekarbonisasi
Managing Director WRI Indonesia, Arief Wijaya, menyatakan bahwa menurut analisis WRI dari berbagai sumber termasuk Climate Watch dan Laporan Biennale II Indonesia, sektor industri menyumbang 34 persen dari emisi nasional. Oleh karena itu, dekarbonisasi industri menjadi kunci dalam mencapai target iklim serta membuka peluang kerja hijau di pasar global.
“Transisi tidak dapat diterapkan dengan satu pendekatan yang seragam. Setiap sektor dan perusahaan memiliki tantangan yang berbeda. Oleh karena itu, solusi yang adaptif dan berbasis data sangat diperlukan,” ujar Arief dalam keterangannya, Jumat (13/6/2025).
Upaya ini sejalan dengan target Pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 31,89 persen melalui Enhanced Nationally Determined Contributions (ENDC).
Selama lima tahun terakhir, CSP telah mengadakan pelatihan teknis dan sesi penguatan kapasitas bagi perusahaan industri, serta melakukan uji coba efisiensi dan penggunaan energi terbarukan di sektor pakaian. Program ini juga menghasilkan panduan transisi energi dan rekomendasi kebijakan yang mendukung penerapan teknologi rendah karbon secara sistematis.
CEO WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda, menekankan pentingnya hubungan antara transisi energi dan perlindungan keanekaragaman hayati. Menurutnya, menjaga ekosistem adalah syarat mutlak untuk mencapai target net-zero.
“Tanpa ekosistem yang terjaga, pencapaian target net-zero akan sulit dicapai. Panduan konversi biomassa yang kami kembangkan dirancang agar dapat menurunkan emisi GRK sekaligus melindungi ekosistem,” ujar Aditya.
Presiden Direktur HSBC Indonesia, Francois de Maricourt, menambahkan bahwa CSP mencerminkan komitmen perusahaan dalam mendukung inisiatif transisi energi yang berpotensi tinggi namun masih kurang menarik secara komersial. Dia menyebut inisiatif ini sebagai bagian dari kontribusi nyata untuk mendorong dekarbonisasi industri.
“Meskipun masih banyak yang harus dilakukan, langkah ini menunjukkan bahwa keberhasilan dapat dicapai jika semua pemangku kepentingan memiliki tujuan yang sama,” kata Francois.
