Kadin Dorong Pengusaha Luas Pasar Internasional di Tengah Tantangan Global
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengimbau para pelaku usaha untuk mengadopsi pola pikir global dan lebih aktif dalam memanfaatkan peluang di pasar internasional.
Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia, James Riady, menyatakan bahwa tantangan utama bagi dunia usaha saat ini tidak hanya terletak pada aspek operasional, tetapi juga pada pembentukan visi global di tengah kompetisi internasional yang semakin ketat.
“Potensi Indonesia sangat besar, namun membutuhkan kerja sama dan pemahaman bersama antara pelaku usaha,” ujar James dalam acara Monthly Economic Diplomatic Breakfast Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri, di Jakarta, Sabtu (14/6/2025).
James menekankan bahwa untuk kemajuan perusahaan, pelaku usaha harus berpikir melampaui batas. “Apa pun yang kita butuhkan, kita cari ke internasional. Kita butuh pasar, kita ke internasional. Kita butuh modal, kita ke internasional. Kita butuh tenaga kerja yang khusus, kita ke internasional,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Kadin telah memiliki banyak komite bilateral yang aktif, dan mekanisme kerja sama seperti ini akan terus diperkuat. Ia juga menyoroti keunikan Kadin sebagai organisasi yang memiliki struktur solid dari pusat hingga daerah. “Ini yang terus kita pupuk setiap bulan agar lebih kuat lagi,” tambahnya.
James juga menyoroti rendahnya kontribusi perdagangan luar negeri terhadap ekonomi nasional yang masih di bawah 40 persen. Menurutnya, Indonesia harus mulai memikirkan cara meningkatkan porsi perdagangan internasional. “Pasar dunia itu besar, dan kita harus mulai mengambil bagian lebih besar di sana,” tambahnya.
Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Organisasi Kadin Indonesia, Taufan Eko Nugroho Rotorasiko, mengungkapkan bahwa masih banyak tantangan dalam memperkuat hubungan internasional, terutama terkait kurangnya informasi yang sampai ke pelaku usaha.
Taufan menekankan perlunya perencanaan yang lebih terstruktur untuk masa depan serta komunikasi yang lebih terbuka antara pelaku bisnis dan pemerintah.
“Kami ingin diskusi lebih intensif mengenai perencanaan tiap bulan ke depan seperti apa,” ujar Taufan.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Internasional, Johni Martha, membahas tantangan dalam hubungan dagang dengan Amerika Serikat (AS).
Ia menjelaskan bahwa masih terdapat perbedaan data antara kedua negara mengenai besaran defisit perdagangan.
Menurut Johni, AS mencatat defisit 18 miliar dolar dari Indonesia, sementara Pemerintah Indonesia menghitung defisit sebesar 14 miliar dolar. “Yang 4 miliar nggak tahu ke mana. Tapi yang jelas itu pekerjaan rumah kita bersama,” tuturnya.
Lebih lanjut, Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menyatakan bahwa pemerintah daerah saat ini tengah membuka peluang sebesar-besarnya di sektor pertanian, perikanan, serta layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan.
Ia menilai forum seperti Monthly Economic Diplomatic Breakfast menjadi penting karena membuka ruang dialog langsung antara daerah dan pelaku usaha nasional.
“Forum ini luar biasa. Kami berharap ke depan bisa juga dibawa ke daerah agar pengusaha bisa melihat langsung potensi yang ada,” ujarnya.
