Penutupan Selat Hormuz Dapat Mengurangi 20 Persen Pasokan Minyak Global dari Kawasan Teluk
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Ahli di bidang minyak dan gas bumi, Hadi Ismoyo, menguraikan beberapa dampak penutupan Selat Hormuz. Jalur ini adalah penghubung penting antara Teluk Persia dan Teluk Oman, yang terancam ditutup oleh Iran.
Ketegangan antara Iran dan Israel menjadi latar belakang ancaman ini. Hadi menjelaskan, jika ancaman dari Iran terwujud, sekitar 20 persen pasokan minyak dari kawasan Teluk akan terputus. Negara-negara di kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, akan terdampak. Meskipun ada jalur alternatif di Laut Merah, Hadi memperkirakan jalur tersebut dapat terganggu oleh kelompok Houthi.
Seiring dengan itu, harga minyak dunia diprediksi akan melonjak secara signifikan karena harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) juga mengikuti pergerakan harga minyak dunia. “Otomatis, ICP akan meningkat pesat,” ungkap Sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) periode 2016-2022 kepada BERITA TERBARU INDONESIA, Ahad (15/6/2025).
Jika situasi terus memanas, harga minyak dunia bisa meningkat menuju keseimbangan baru, berkisar antara 75 hingga 85 dolar AS per barel. “Bahkan, jika pihak terkait seperti PBB, Amerika Serikat, Rusia, China, dan negara-negara teluk tidak mampu menghentikan konflik ini, batasan tersebut bisa terlampaui,” tambah Hadi.
Indonesia, yang merupakan salah satu importir minyak dunia, jelas akan merasakan dampaknya. Sebagian besar kebutuhan minyak nasional dipenuhi melalui impor.
Hadi menyarankan agar kebijakan beralih dari bahan bakar minyak ke gas secara bertahap dapat dihidupkan kembali, seperti Program Konversi BBM/LPG ke gas yang dimulai pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Program ini perlu dihidupkan kembali agar kita dapat mengurangi ketergantungan pada impor BBM dan LPG,” katanya.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya gas yang cukup besar, sementara cadangan minyak dan LPG terbatas. Oleh karena itu, ia mendorong pembangunan infrastruktur gas secara masif, termasuk Terminal Regas FRSU, jaringan pipa transmisi dan distribusi, baik konvensional maupun virtual. Hal ini memungkinkan distribusi gas dari wilayah Indonesia Timur, seperti Tangguh III, Kasuri, Masela, Gank North, IDD, dan penemuan gas di Laut Andaman, ke pusat industri di Pulau Jawa.
