Eropa Barat Terancam Musim Dingin Ekstrem
BERITA TERBARU INDONESIA, DEN HAAG — Eropa Barat berisiko mengalami musim dingin yang sangat dingin, badai parah, dan kekeringan dalam beberapa dekade mendatang. Ancaman ini muncul jika sistem arus laut utama di Samudra Atlantik, dikenal sebagai Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC), terus melemah akibat perubahan iklim.
Sistem arus ini berperan dalam membawa air hangat dari daerah tropis ke Atlantik Utara, menjaga suhu Eropa tetap hangat. Namun, penelitian terbaru dari Institut Meteorologi Kerajaan Belanda (KNMI) dan Universitas Utrecht menunjukkan bahwa AMOC kini berada di bawah tekanan besar.
Menurut KNMI, akibat meningkatnya curah hujan dan mencairnya es di Greenland, air di Samudra Atlantik Utara menjadi kurang asin dan, oleh karena itu, kurang berat. Hal ini dilaporkan oleh KNMI pada Ahad (15/6/2025).
Pelemahan AMOC disebabkan oleh masuknya air tawar dari es yang mencair dan peningkatan curah hujan, yang mengurangi salinitas air laut dan mengganggu pergerakan arus laut dalam. Jika pelemahan ini terus berlanjut, diperkirakan Eropa Barat bisa mengalami penurunan suhu musim dingin ekstrem hingga minus 20 derajat Celsius, badai yang lebih sering dan kuat, serta peningkatan permukaan laut yang lebih cepat.
Para ilmuwan telah memodelkan skenario di mana emisi gas rumah kaca global dikurangi. Namun, suhu rata-rata bumi tetap diperkirakan akan meningkat 2,7 derajat Celsius pada 2100 dibandingkan dengan era pra-industri, karena emisi yang sudah ada terus memanaskan atmosfer.
Model ini menunjukkan bahwa penurunan emisi tidak secara otomatis menghentikan gangguan besar pada sistem iklim global, termasuk ancaman pelemahan AMOC.
KNMI menekankan bahwa perubahan pada AMOC akan menyebabkan perubahan signifikan pada iklim. Namun, penemuan ini masih merupakan perkiraan awal dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami dampak penuh yang mungkin terjadi.
