‘Indonesia Sebaiknya Prioritasi Urusan Domestik Daripada Palestina’, Apakah Ini Benar?
Salah satu pandangan yang banyak muncul adalah bahwa ‘Indonesia sebaiknya fokus pada isu dalam negeri. Masih ada masalah ekonomi, pengangguran, dan korupsi yang lebih mendesak untuk diselesaikan daripada terlibat dalam konflik di luar sana.’
- Mengapa Misi Perang Israel Terhadap Iran Gagal?
- Abu Ubaidah: Israel Melemparkan Tentaranya ke Dalam Lumpur Gaza Hingga Pemakaman Mereka
- Hari Menyakitkan bagi Penjajah: Perlawanan Palestina Terus Berlanjut di Jalur Gaza
Benarkah demikian? Mari kita telisik, bukan hanya dari perspektif geopolitik atau strategi diplomasi, melainkan dari sudut pandang yang lebih dalam: filsafat bangsa. Sebab dalam filsafat politik, apa yang kita bela dan diamkan menggambarkan nilai dasar dari siapa kita sebagai sebuah bangsa.
Serangan balasan Iran terhadap Israel pada Juni 2025 memang memicu eskalasi besar. Bagi banyak pihak, konflik ini disebut sebagai perebutan pengaruh di Timur Tengah. Namun di balik dentuman rudal dan kepanikan global, akar masalahnya justru nyaris terlupakan, yaitu: Palestina.
Israel dan Amerika kerap membenarkan serangan mereka dengan narasi ‘mencegah Iran membangun senjata nuklir.’ Namun faktanya, hingga kini tak ada bukti sahih bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.
Proyek nuklir Iran berada di bawah kerangka perjanjian NPT dan diawasi IAEA. Sebaliknya, Israel justru menjadi satu-satunya negara di kawasan dengan persenjataan nuklir—dan menolak diaudit oleh badan internasional IAEA.
Yang membuat Iran menjadi musuh utama Amerika Serikat dan Israel bukanlah teknologinya, melainkan posisinya sebagai pembela Palestina yang konsisten sejak Revolusi Islam 1979. Iran menolak normalisasi, mendukung kelompok perlawanan, dan menantang dominasi Zionisme.
Iran dimusuhi Amerika Serikat dan Israel karena Iran-lah yang selama ini memberikan dukungan dana, senjata, dan teknologi untuk membangun kekuatan persenjataan pejuang Palestina.
Jika kita ingin memahami akar konflik ini, jangan hanya lihat reaktor di Natanz. Perhatikan Gaza yang terus dibombardir, dan lihat siapa yang tetap berdiri di sisinya.
