Kisah Sahabat Rasul yang Meninggal Saat Hijrah
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Dhamrah bin Ishaq merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang memeluk Islam ketika dakwah Islam dimulai di Makkah. Sebagai seorang saudagar yang sukses, ia sudah berada pada usia lanjut ketika menjadi Muslim.
Selama lebih dari satu dekade, Rasulullah SAW menyebarkan ajaran Islam di Makkah. Dalam periode itu, beliau dan para Muslim sering kali menghadapi ancaman, intimidasi, dan bahkan persekusi dari kaum kafir Quraisy.
Hingga pada akhirnya, Allah memerintahkan Rasulullah SAW serta umat Islam untuk berhijrah dari Makkah menuju Yastrib—yang kemudian dikenal sebagai Madinah al-Munawwarah.
Setelah sebagian besar Muslim di Makkah berangkat, barulah Nabi SAW meninggalkan Makkah dengan ditemani oleh Abu Bakar ash-Shiddiq. Mereka berhasil meloloskan diri dari pengepungan dan pengejaran oleh kaum musyrik Quraisy.
Di Makkah, yang tersisa adalah orang-orang Muslim yang memang diizinkan untuk tidak berhijrah karena alasan syar’i. Ini sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surah an-Nisa ayat 97 hingga 99.
Namun, ayat-ayat Alquran tersebut juga memberikan peringatan bagi setiap Muslim yang sebenarnya mampu berhijrah tetapi memilih untuk tetap tinggal di Makkah. Bagi mereka, ada ancaman dari Allah SWT berupa neraka Jahanam.
Dhamrah bin Ishaq masih berada di Makkah. Sesungguhnya, ia termasuk dalam golongan yang diperbolehkan untuk tidak berhijrah. Secara fisik, ia bukan hanya lansia tetapi juga mengalami disabilitas karena kedua matanya buta.
Kendati demikian, keinginan Dhamrah untuk berhijrah sangatlah kuat. Ia amat ingin menyusul Rasulullah SAW ke Madinah.
Keinginan Dhamrah untuk menyusul Rasulullah SAW ke Madinah tidak lagi terbendung. Pria yang telah melewati usia 85 tahun itu telah mempersiapkan dana dan bekal.
“Wahai Dhamrah, engkau sudah tua dan mudah lemah. Kedua matamu pun tidak bisa melihat. Bagaimana jika engkau jatuh sakit di tengah perjalanan? Perjalanan menuju sana (Madinah) sungguh berat, kami khawatir padamu,” ujar saudaranya mencoba membujuknya.
“Tidak!” ujar Dhamrah tegas, “Aku tidak termasuk mereka yang mendapatkan keringanan! Aku sudah membayar seorang budak yang tahu jalan dan bisa membawaku ke Yastrib. Aku akan menyusul Rasulullah!”
Meski berkali-kali saudara-saudaranya memperingatkan, Dhamrah tetap teguh pada pendiriannya.
Kabar tentang kepergian Dhamrah menyebar ke seluruh Makkah. Kaum kafir Quraisy mencemooh keputusannya. “Orang gila! Mengapa harus menyusul Muhammad ke sana, dan meninggalkan bisnisnya di kota ini?” ejek mereka.
Setelah beberapa hari di perjalanan, fisik Dhamrah tidak mampu bertahan lagi. Akhirnya, sahabat Nabi tersebut meninggal dunia di tengah perjalanan.
Kabar duka itu sampai ke Madinah. Mendengarnya, para sahabat Nabi ikut merasakan kesedihan yang mendalam.
