Tim Putri Kyoto Seika dan Tim Putra Yongsan High School Menangkan NBA Rising Stars Invitational Pertama
BERITA TERBARU INDONESIA, SINGAPURA — Tim putri Kyoto Seika Gakuen Senior High School (Jepang) dan tim putra Yongsan High School (Korea Selatan) tampil gemilang dan berhasil menguasai kompetisi untuk meraih gelar juara di edisi perdana NBA Rising Stars Invitational yang berlangsung di Kallang Tennis Hub pada Ahad, 29 Juni 2025.
Di final putri, Kyoto Seika Gakuen Senior High School mengalahkan Onyang Girls’ High School (Korea Selatan) dengan skor 109-40. Sementara itu, di final putra, Yongsan High School menundukkan Tsinghua University High School (China) dengan skor 97-48.
Pada pertandingan final putri, performa impresif di kedua sisi lapangan membawa Kyoto Seika Gakuen Senior High School pada kemenangan besar dan meraih gelar dengan gaya memukau. Kedua tim memulai dengan semangat tinggi dan saling bertukar poin.
Namun, tim Jepang terbukti lebih unggul dalam serangan dan pertahanan, mengakhiri kuarter pertama dengan keunggulan 27-11 yang tidak bisa dikejar lagi.
Pertahanan ketat mereka efektif karena tim Korea Selatan kesulitan melakukan tembakan ke ring. Banyak upaya yang tergesa-gesa membuat mereka hanya mencetak 20,3 persen dari percobaan field goal.
Di sisi lain, tim Jepang mempertahankan momentum dengan serangan cepat yang dipimpin oleh MVP Hikari Yoshida. Mereka dengan mudah menembus pertahanan Korea dengan konversi field goal hingga 50 persen. Mereka juga memanfaatkan free throw dengan baik, mencetak 11 dari 18 percobaan.
Final putra juga berjalan satu arah dengan Yongsan High School yang tampil perkasa melawan Tsinghua University High School. Didukung oleh MVP putra Kim Min-gi, kapten Daniel Edi, dan forward Kim Tae-in yang berkontribusi 60 poin, tim Korea meraih kemenangan 97-48 dengan ketajaman tembakan dan rotasi pertahanan yang prima.
Wakil China terpuruk karena miskomunikasi dan penguasaan bola yang buruk. Mereka kesulitan menembus pola defensif 3-2 dan 2-1-2 yang diterapkan lawan sepanjang laga. Usaha memaksimalkan keunggulan di posisi bigman tidak berhasil karena pemain Yongsan High School dengan sigap memotong bola. Mereka memanfaatkan kesalahan lawan untuk mengamankan kemenangan di hadapan 1.100 penonton.
Penonton yang memadati venue pada Ahad juga dihibur oleh kehadiran bintang-bintang, termasuk NBA All-Star Domantas Sabonis, legenda WNBA Lauren Jackson, pemain NBA aktif Ryan Dunn dan Oso Ighodaro, serta bintang B.LEAGUE Keisei Tominaga.
Domantas Sabonis menyampaikan, “Bagi para atlet muda, ini tentang membawa permainan mereka ke level berikutnya. Kalian bisa lihat para atlet sekarang membawa kemampuan mereka jauh melampaui yang pernah ada, melakukan hal-hal yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Saya selalu bersemangat melihat apa yang bisa dilakukan anak-anak belakangan ini. Kemarin, saya menonton pertandingan, dan anak-anak ini melakukan hal-hal yang bahkan dulu tidak pernah kami bayangkan, jadi sangat menyenangkan melihat bagaimana permainan ini terus berkembang,” ujarnya.
NBA Rising Stars Invitational yang berlangsung 25-29 Juni adalah turnamen sekolah menengah atas regional pertama dari liga tersebut, dan edisi perdana ini menampilkan tim putra dan putri dari 11 negara di kawasan Asia-Pasifik.
Indonesia juga mengirimkan dua wakil, yakni SMA Jubilee Jakarta (putra) dan SMAK BPK Penabur Cirebon (putri). Tim putra Jubilee dikalahkan oleh Tsinghua University High School dengan skor 51-76 dan kalah tipis 73-75 dari Erdenet High School Mongolia.
SMAK BPK Penabur Cirebon juga mengalami dua kekalahan di fase grup, yaitu 58-67 dari Watnoinoppakhun School Thailand dan kalah dari Tsinghua High School China dengan skor 52-64.
Legenda NBA asal China, Yao Ming, turut hadir menyaksikan langsung turnamen ini. Ia menekankan pentingnya kompetisi seperti ini untuk mengembangkan kualitas pemain muda di kawasan Asia.
“Satu-satunya cara bagi pemain untuk menjadi lebih baik adalah melalui kompetisi yang baik. Kompetisi yang baik membantu kita melihat kelemahan dan kekurangan yang kita miliki. Pelatih dan rekan satu tim membantu untuk memperbaikinya dan meningkatkan permainan ke level berikutnya. Di Asia, kita membutuhkan lebih banyak kompetisi untuk bisa bersaing di dunia,” ujar Yao Ming.
