Berita Terbaru Indonesia, JAKARTA
Pengamat sekaligus Direktur Pusat Studi Hubungan Internasional (CIRes) LPPSP FISIP Universitas Indonesia, Fredy B. L. Tobing, mengungkapkan bahwa konflik yang berlangsung antara Iran dan Israel berdampak signifikan terhadap keadaan global. Krisis minyak dunia mungkin akan terjadi jika Iran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz.
“Menurut pendapat saya, dampak global dari situasi ini memang cukup serius,” ujarnya dalam webinar tentang Perkembangan Konflik Israel-AS-Iran: Implikasi Global dan Respons Indonesia yang diadakan oleh CIRes LPPSP FISIP UI di Jakarta, Kamis.
Fredy mengamati bahwa efek dari perang ini cukup signifikan karena Timur Tengah adalah pusat dari kegiatan ekonomi dunia, terutama dalam sektor energi. Syukurlah, negara-negara kuat seperti Rusia dan China tidak terlibat langsung dalam konflik ini, sehingga tidak memperburuk situasi.
“Bisa dibayangkan jika mereka terlibat langsung, yang menang akan menjadi arang, yang kalah menjadi abu. Ada yang diuntungkan secara ekonomi dalam situasi ini,” tambahnya.
Fredy juga menilai bahwa konflik ini dapat sangat mempengaruhi fluktuasi harga minyak global jika Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel ke wilayahnya.
“Kondisi Timur Tengah sangat rentan jika konflik Iran-Israel ini tidak segera diatasi. Keamanan pasokan minyak dari negara-negara pengekspor ke negara-negara pengimpor pasti terganggu, dan ini memengaruhi seluruh dunia, terutama negara-negara industri di Eropa dan Asia Timur,” jelas Fredy.
“Kita semua merasa was-was jika Iran secara sepihak menganggap Selat Hormuz hanya untuk kepentingan nasionalnya sendiri, tanpa memperhatikan kepentingan global yang lebih luas,” katanya.
Dia berpendapat bahwa masyarakat dunia harus turut serta dalam memberikan solusi dan resolusi damai atas konflik Iran-Israel. “Dampak global yang paling besar adalah peningkatan inflasi di negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia,” pungkasnya.
