Masyarakat Dorong Pemakaian BBM Bersulfur Rendah
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Tekanan terhadap pemerintah untuk segera menghentikan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) dengan kandungan sulfur tinggi semakin meningkat. Dalam kampanye “Gerakan Kembalikan Langit Biru Kita” yang dilaksanakan di Jakarta, Ahad (6/7/2025), masyarakat menuntut adanya langkah politik yang berani dari pemerintah untuk mempercepat peralihan ke BBM rendah emisi guna menjaga kesehatan publik.
Kampanye yang diinisiasi oleh Bicara Udara, Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), serta berbagai komunitas peduli udara bersih ini menyoroti buruknya kualitas udara di kota-kota besar akibat penggunaan BBM bersulfur tinggi, yang dianggap berkontribusi signifikan terhadap penyakit pernapasan, terutama bagi anak-anak.
“Sebagai seorang ibu, saya tidak rela jika kita semua harus menghirup udara yang tercemar dan anak-anak kita berisiko terkena penyakit akibat kualitas udara yang sangat buruk, hanya karena ketidakmampuan pemerintah dalam mengatur kualitas bahan bakar,” ungkap Cynthia Andarinie, juru bicara Duta Udara Bersih, Senin (7/7/2025).
Menurut Cynthia, pemerintah tidak bisa lagi menunda kebijakan terkait bahan bakar bersih. Dia menekankan pentingnya langkah cepat untuk mengadopsi standar BBM Euro 4 demi melindungi generasi muda.
Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin menilai pemerintah gagal memberikan perlindungan yang layak bagi rakyat. Ia menegaskan bahwa Filipina, Thailand, dan Vietnam telah menerapkan BBM dengan sulfur di bawah 50 part per million (ppm), sementara BBM di Indonesia masih mengandung sulfur ribuan ppm.
“Ini saatnya pemerintah menunjukkan keberanian politik. Jika negara lain bisa, mengapa Indonesia terus mengimpor BBM kotor?” ujar Ahmad.
Dia menggambarkan kondisi ini sebagai bentuk kebijakan yang tertinggal dan merugikan rakyat, terutama dalam aspek kesehatan.
Kampanye jalan kaki yang berlangsung dari Dukuh Atas hingga Bundaran HI ini diikuti ratusan warga, aktivis, akademisi, dan komunitas, dengan membawa poster-poster berisi pesan menohok: “Anak-anak sesak napas karena BBM beracun” dan “Langit kelabu bukan takdir, tapi salah kebijakan.”
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kendaraan bermotor melonjak dari 4,4 juta unit pada 2006 menjadi lebih dari 148 juta unit pada 2022. Lonjakan jumlah kendaraan ini memperparah paparan sulfur dioksida dari BBM berkualitas rendah.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa BBM bersulfur tinggi menghasilkan gas beracun yang memicu asma, bronkitis, gangguan jantung, hingga penurunan fungsi paru pada anak-anak. Namun hingga kini, pemerintah belum menunjukkan komitmen kuat dalam menyusun peta jalan untuk menghapus BBM kotor.
Melalui gerakan ini, masyarakat mengingatkan bahwa transisi energi bersih bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. “Kita tidak butuh janji. Kita butuh kebijakan konkret,” ujar Cynthia.
