Penyebab Kebakaran Mobil Listrik di Bandung Menurut Ahli ITB dan Klarifikasi dari Wuling Motors
BERITA TERBARU INDONESIA, Terjadi kebakaran pada sebuah mobil listrik merek Wuling di Jalan Soekarno Hatta, perempatan Jalan Moch Toha, Kota Bandung, pada Sabtu malam (5 Juli 2025) sekitar pukul 19:22 WIB. Asep Rahmat, Kepala Seksi Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Bandung, menyatakan bahwa objek yang terbakar adalah mobil listrik milik seorang warga Bandung yang sedang digunakan.
“Objek yang terbakar adalah mobil listrik,” ujarnya pada Minggu (6 Juli 2025).
Video yang menunjukkan mobil terbakar dengan api yang melalap habis kendaraan tersebut sempat beredar di media sosial. Menurut keterangan saksi, kejadian dimulai dengan munculnya asap dari bagian depan mobil.
Menanggapi insiden ini, Yannes Martinus Pasaribu, seorang ahli otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa penyebab kebakaran mungkin bukan disebabkan oleh baterai kendaraan. Dalam pernyataannya pada Senin (7 Juli 2025), Yannes mengatakan bahwa diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan penyebab pasti kebakaran. Berdasarkan analisis visual dari video, kemungkinan besar kebakaran dipicu oleh korsleting pada sistem kelistrikan di bagian depan mobil, bukan dari baterai.
“Analisis awal hanya dapat dilakukan secara visual, karena penyelidikan teknis yang menyeluruh masih diperlukan. Namun, secara kasat mata, tampak bahwa kebakaran kemungkinan besar berawal dari bagian depan mobil, setelah terjadi tabrakan,” kata Yannes.
Berdasarkan informasi yang beredar, mobil listrik tersebut sempat mengalami tabrakan sebelum terbakar. Yannes menjelaskan bahwa bagian depan mobil listrik biasanya berisi komponen elektronik seperti On-Board Charger (OBC), DC-DC converter, dan Power Distribution Unit (PDU).
Komponen-komponen ini berpotensi mengalami korsleting, terutama saat terkena air hujan deras, seperti yang terjadi saat insiden berlangsung.
“Hujan deras bisa memperparah korsleting pada bagian depan, seperti pada komponen kelistrikan dan kontroler tegangan tinggi. Air hujan dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko korsleting pada komponen listrik yang terbuka akibat kerusakan dari tabrakan dan paparan air,” jelas Yannes.
Pendapat awal Yannes sejalan dengan pernyataan resmi dari Wuling Motors, yang menegaskan bahwa penyebab kebakaran bukan berasal dari baterai Air EV tersebut. Namun, Yannes tidak menutup kemungkinan bahwa baterai tegangan tinggi tipe LFP bisa ikut terbakar jika suhu api mencapai titik kritis di atas 270°C.
Ia menekankan bahwa baterai bukanlah sumber api awal karena posisinya yang berada di bawah kabin. Jika dugaan korsleting pada sistem kelistrikan 12V terbukti benar, maka diperlukan audit terhadap desain wiring harness dan proteksi elektronik di bagian depan mobil listrik.
“Diperlukan investigasi forensik teknik lanjutan oleh tim independen untuk memastikan apakah tabrakan memicu kerusakan pada sistem kelistrikan tegangan tinggi, baterai, atau interaksi termal lainnya yang tidak teramati secara visual dari video yang beredar,” tambah Yannes.
