Krakatau Steel Memperkuat Kedudukan dengan Memaksimalkan Peluang Kerja Sama Strategis
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Akbar Djohan menyatakan bahwa perusahaan terus mengalami perbaikan dan setia melakukan transformasi serta restrukturisasi. Akbar menyatakan Krakatau Steel berhasil melewati berbagai rintangan dan tetap mendapat kepercayaan tinggi dari para pemangku kepentingan.
“Ini dapat dilihat dari kenaikan harga saham Krakatau Steel, yang tidak hanya mencatatkan prestasi finansial tetapi juga menunjukkan peningkatan kepercayaan masyarakat dan investor terhadap Krakatau Steel,” ujar Akbar dalam pernyataannya di Jakarta, Sabtu (12/7/2025).
Akbar menuturkan bahwa Krakatau Steel telah menandatangani nota kesepahaman dengan Delong Steel Group, Xiamien ITG Group Co., Ltd, dan PT Dexin Steel Indonesia dalam acara BRICS Innovation Base Industry Project Matchmaking Meeting di Beijing, Cina, serta menjalin kerja sama dengan Tatarstan Trade House di Rusia. Selain itu, Krakatau Steel juga mengekspor 2.400 ton baja ke Polandia. Melalui PT Krakatau Baja Industri dan PT Tata Metal Lestari, mereka juga melakukan ekspor sebesar 10 ribu ton ke Amerika Serikat pada pertengahan Juli 2025.
“Setelah seluruh BUMN bergabung dengan Danantara, banyak perubahan signifikan yang terjadi, terutama terkait peningkatan investasi untuk nilai tambah perusahaan ke depan,” kata Akbar.
Akbar berharap adanya birokrasi yang lebih cepat setelah Krakatau Steel di bawah Danantara. Perusahaan akan terus berupaya melakukan pengembangan dan perbaikan setelah mendapatkan dukungan dana dari Danantara.
Akbar mengungkapkan bahwa industri baja harus mampu melakukan pengadaan yang efisien. Pasca reaktivasi pabrik Hot Strip Mill 1, Akbar berharap Krakatau Steel dapat secara optimal memproduksi baja berkualitas dan menjadi pelindung bagi industri baja di Indonesia.
“Dengan kebijakan yang diatur pemerintah, kami yakin industri baja nasional dapat lebih kuat menghadapi perubahan ekonomi global. Mari kita perkuat barisan, jangan ragu untuk memperketat proteksi, safeguard, antidumping, maupun kebijakan yang mendukung pengembangan industri baja nasional,” tegas Akbar.
Akbar menambahkan bahwa Krakatau Steel telah melakukan transformasi besar-besaran dan restrukturisasi yang berlanjut dengan Danantara, memperbaiki kinerja dengan target ke depan untuk mengoptimalkan produksi hingga tiga juta ton per tahun. Akbar menyoroti banyak potensi yang belum digali dari sektor konstruksi, manufaktur, ketahanan energi, ketahanan pangan, dan keamanan pertahanan.
Krakatau Steel, menurut Akbar, mendukung One ASEAN First, di mana secara geografis, negara-negara ASEAN memiliki potensi besar untuk memimpin industri baja global. Akbar menyatakan Krakatau Steel akan terus mengembangkan industri baja Indonesia di pasar ASEAN.
“Dengan semua skema yang dilakukan secara maksimal, kami yakin akan memberikan dampak signifikan bagi kemajuan dan peningkatan kinerja Krakatau Steel di masa depan,” ujar Akbar.
Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan menyatakan kenaikan tersebut bersifat individual tanpa adanya kontribusi dari sentimen sektoral dan pasar. Alfred menyebut lonjakan harga saham KRAS dalam beberapa pekan terakhir juga menunjukkan bahwa pasar sangat responsif terhadap pertumbuhan anorganik, seperti kerja sama dengan Delong Steel dalam investasi strategis di sektor baja dan potensi kerja sama strategis lainnya.
“Skala nilai kerja sama yang signifikan tentunya akan memberikan dampak besar, selain mendapatkan kepercayaan dari produsen global kepada KRAS,” kata Alfred.
