Kesepakatan Tarif: Apakah Indonesia Terjebak Kebijakan Trump?
BERITA TERBARU INDONESIA, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pada hari Selasa bahwa ia telah mencapai kesepakatan perdagangan awal dengan Indonesia. Pengumuman ini muncul hanya seminggu setelah mengancam akan memberlakukan tarif 32 persen pada barang-barang ekspor dari Indonesia ke AS.
“Mereka akan membayar 19 persen dan kita tidak akan membayar apa-apa. Menurut saya, ini adalah kesepakatan yang baik untuk kedua belah pihak,” ucap Trump kepada wartawan di halaman Gedung Putih. “Saya berbicara dengan presiden mereka yang sangat hebat [Prabowo Subianto] – sangat populer, kuat, cerdas – dan kami mencapai kesepakatan.”
Trump menyatakan bahwa “mereka memberikan kita akses ke Indonesia, yang belum pernah kita miliki sebelumnya. Itu mungkin bagian terbesar dari kesepakatan ini.”
Presiden Trump juga mengatakan bahwa Indonesia “memiliki beberapa produk yang luar biasa… salah satunya, seperti yang Anda tahu, mereka terkenal dengan tembaga berkualitas tinggi, yang akan kami gunakan.”
Indonesia adalah pengekspor bijih tembaga terbesar ketiga di dunia dan juga produsen utama kabel berinsulasi.
Apakah hanya tembaga yang diincar AS? Laporan media dari Singapura beberapa hari yang lalu menyebutkan bahwa Indonesia mencoba mencapai kesepakatan dengan menawarkan eksplorasi mineral jarang.
Tawaran tersebut diantar oleh delegasi Indonesia yang melanjutkan negosiasi beberapa jam setelah keluarnya surat ancaman tarif 32 persen dari Trump pada 7 Juli.
Media Singapura mengutip pejabat pemerintah yang terlibat dalam negosiasi ini bahwa Jakarta berencana untuk mengandalkan cadangan elemen tanah jarangnya yang kaya dan belum dikembangkan sebagai alat tawar-menawar untuk menurunkan tarif seiring tenggat waktu Agustus yang semakin dekat.
“Dua puluh hari bukanlah waktu yang lama, tetapi kami memiliki dua hal yang sangat diinginkan oleh AS. Salah satunya adalah tanah jarang,” kata pejabat anonim yang dikutip media tersebut.
Pejabat tersebut menolak memberikan informasi lebih lanjut mengenai aspek kedua yang ingin dimanfaatkan Indonesia. Dia menambahkan bahwa tawaran tersebut adalah proposal resmi ketiga dari Indonesia kepada AS.
Tim negosiasi Indonesia telah mengirimkan surat komprehensif pada minggu kedua bulan April untuk memulai negosiasi, menyusul pidato tarif Hari Kemerdekaan Trump pada 2 April.
Surat tersebut ditujukan kepada Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, berisi daftar hal-hal yang dapat dilakukan Indonesia untuk menyeimbangkan perdagangan dan apa yang dapat dilakukan AS sebagai timbal balik.
