Inovasi dari Desa ke Dunia Digital: Mahasiswa, Kamera, dan Reels Jadi Kunci Perubahan Sosial
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Terkadang kita lupa bahwa di balik video reels berdurasi 30 detik yang kita lihat sambil ngemil pada sore hari, ada upaya mahasiswa yang berani kepanasan, melakukan pengulangan pengambilan gambar, bahkan berakting sebagai ibu desa untuk menciptakan konten yang tidak hanya viral tetapi juga bermakna.
Inilah yang terjadi dalam ajang BSI Explore 2025, di mana kamera ponsel menjadi alat utama, dan desa-desa menjadi panggung kreatif bagi para pemuda.
Kelompok mahasiswa dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang bertugas di Lengkong Wetan, Tangerang Selatan, berhasil meraih Juara 1 dalam kategori Video Reels Terbanyak. Mereka terus memperbarui konten layaknya pasangan baru yang rajin mengunggah momen kebersamaan. Belum sempat penonton menyaksikan video yang lama, sudah muncul yang baru.
Juara 2 diraih oleh kelompok mahasiswa UBSI di Ridogalih, Bekasi, yang tetap bersemangat meskipun sinyal sering hilang saat mengunggah video.
Sementara itu, kelompok mahasiswa UBSI di Pasirmukti, Karawang, memenangkan Juara 3, membuktikan bahwa konsistensi dan kopi sachet bisa menjadi senjata ampuh dalam produksi video.
Namun, kreativitas adalah cerita yang berbeda. Dalam kategori Video Reels Terkreatif dan Unik, mahasiswa UBSI Tanjung Anom dari Tangerang keluar sebagai pemenang. Kreativitas mereka mungkin terinspirasi dari keadaan listrik mati, sehingga berpikir di luar kotak saat berkreasi.
Kelompok mahasiswa UBSI di Ciomas, Bogor, menempati posisi kedua, sementara kelompok dari Telagasari, Karawang, menempati posisi ketiga, masing-masing membawa nuansa lokal yang dikemas layaknya trailer film pendek.
Ketika bicara soal cinta, atau lebih tepatnya ‘like’, kelompok mahasiswa UBSI di Desa Kemang, Bogor, berhasil memikat hati netizen dan mendapatkan banyak ‘like’.
Karang Anyar, Bekasi, berada di posisi kedua dan Selajambe, Sukabumi, di posisi ketiga, menunjukkan bahwa apresiasi dari netizen bisa datang dari konten yang menyentuh atau menghibur.
Dalam kategori Video Favorit, kelompok mahasiswa UBSI di Tanjung Saleh, Kalimantan Barat, menjadi pemenang. Bayangkan membuat konten menarik di tengah kebun sawit dengan iringan suara jangkrik, dan tetap berhasil mencuri perhatian juri.
Kelompok mahasiswa UBSI di Burikan, Klaten, dan Perbawati, Sukabumi, juga menunjukkan bahwa menjadi favorit tidak selalu tentang viralitas, tetapi juga tentang suasana yang dibangun.
Masuk ke dunia fotografi, kelompok mahasiswa UBSI di Karangtengah, Bogor, menjadi pemenang dengan jepretan yang menyentuh, mungkin karena mereka memotret dengan sepenuh hati.
Sementara itu, kelompok mahasiswa UBSI di Batumirah, Tegal, dan Sukamanis, Sukabumi, juga menunjukkan bahwa fotografi di desa bukan hanya tentang keindahan alam, tetapi juga menangkap esensi kehidupan.
Dan inilah yang paling dinanti, Gelar Kelompok Terbaik atau Juara Umum. Kaputihan, Tasikmalaya, keluar sebagai yang terbaik, bukan hanya karena satu kategori, tetapi karena totalitas mereka dari awal hingga akhir.
Kelompok mahasiswa UBSI di Lengkong Karya (Tangerang Selatan) dan Desa Kertarahayu (Bekasi) menyusul, membuktikan bahwa kerja sama tim, ide kreatif, dan semangat berkemah di pos ronda dapat menjadi resep sukses di BSI Explore 2025.
Ketua Pelaksana, Ade Suryadi, mengatakan bahwa pada akhirnya, mahasiswa tidak hanya membutuhkan kampus untuk belajar, tetapi juga desa untuk berkembang.
Dalam BSI Explore 2025, mereka tidak hanya menanam pohon atau mengajar anak-anak, tetapi juga menanam nilai dan memanen cerita.
“Karena terkadang, pelajaran paling berharga bukan berasal dari dosen, tetapi dari nenek-nenek desa yang mengatakan, ‘Nak, hidup itu tidak perlu canggih, yang penting benar’. Jika AI dapat diajar untuk membuat konten, maka mahasiswa juga dapat diajar menjadi manusia seutuhnya,” ujarnya dalam pernyataan pada Rabu (16/7/2025).
