Tarif AS Ancaman PHK Besar di Indonesia, KSPI: Bisa Mencapai 50 Ribu Tenaga Kerja
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan tarif menuai kritik dari kalangan buruh. Serikat buruh berpendapat, kebijakan tarif AS berpotensi mengakibatkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap puluhan ribu pekerja akibat potensi membanjirnya barang-barang impor ke pasar domestik.
“Pemerintah Indonesia melalui tim ekonominya telah bertemu dengan Pemerintah AS terkait tarif. Tarif yang sebelumnya dikenakan sebesar 32 persen akhirnya turun menjadi 19 persen. Secara kasat mata terlihat menguntungkan. Namun, perlu diingat, Trump mensyaratkan jika Indonesia ingin tarif turun menjadi 19 persen, maka Indonesia harus membuka kran produk-produk AS masuk dengan tarif nol persen dan tanpa hambatan non-tarif,” ujar Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, kepada BERITA TERBARU INDONESIA, Kamis (17/7/2025).
Said menjelaskan, setidaknya ada tiga dampak yang akan muncul akibat kebijakan tarif tersebut. Pertama, tarif 19 persen tetap akan menaikkan harga barang dari Indonesia ke AS, sehingga permintaan terhadap barang Indonesia menurun dan berujung pada meningkatnya angka pengangguran.
“Ketika tarif 32 persen dikenakan, kami memperkirakan sekitar 70 ribu pekerja akan terkena PHK dalam tiga bulan setelah pemberlakuan tarif. Mungkin dengan tarif 19 persen, sekitar 40 ribu hingga 50 ribu pekerja tetap akan terkena PHK,” ungkapnya.
Kedua, dengan membanjirnya produk AS yang masuk tanpa tarif, produsen lokal, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pabrik-pabrik kecil akan kalah bersaing. “Apa yang akan terjadi? Ya, PHK juga,” tegas Said.
Ketiga, Said menyoroti efek samping dari kebijakan tarif tinggi AS terhadap China. Menurutnya, China akan mencari pasar baru, dan Indonesia menjadi salah satu negara tujuan prospektif. Hal ini berpotensi memperparah kondisi pasar domestik karena makin banyak produk impor masuk.
“Siapa yang terpukul lagi? Karena barang China murah, maka produk lokal Indonesia juga terpukul. Karena produksi lokal terpukul dan permintaan kalah bersaing, maka akan ada PHK lagi,” ujarnya.
