Gedung Putih Akhirnya Menyadari Netanyahu ‘Pemimpin yang Bertindak Gegabah’
BERITA TERBARU INDONESIA, WASHINGTON – Tindakan berani Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini diakui oleh orang-orang dekat Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih. Mereka khawatir bahwa tindakan pengeboman yang dilakukan Netanyahu belakangan ini dapat mengganggu agenda AS di Timur Tengah.
“Bibi seperti orang yang tak terkendali. Dia selalu mengebom segala sesuatu,” ujar seorang pejabat Gedung Putih, merujuk pada nama panggilan Netanyahu. “Hal ini dapat merusak apa yang Trump coba capai,” tambah pejabat itu.
- Israel Menembaki Kerumunan Warga Kelaparan di Gaza, 92 Tewas
- PM Israel Benjamin Netanyahu Keracunan Makanan, Inilah Kondisinya
- Mengapa Dubes AS Mendadak Keras Terhadap Israel?
Seorang pejabat senior AS lainnya juga menyoroti penembakan gereja di Gaza pekan ini, yang membuat Presiden Trump menghubungi Netanyahu untuk meminta penjelasan. “Rasanya setiap hari ada hal baru dari Israel. Apa yang sebenarnya terjadi!?”
Meski Trump tidak secara terbuka merespons serangan terhadap gereja Katolik di Gaza, ia melakukan panggilan telepon dengan Netanyahu. Trump dikabarkan dengan marah menuntut Netanyahu untuk mengeluarkan pernyataan penyesalan atas insiden tersebut, yang kemudian dilakukan Netanyahu.
Seorang pejabat AS lainnya menyatakan bahwa ada keraguan yang berkembang di dalam pemerintahan Trump mengenai Netanyahu, merasa bahwa tindakannya terlalu gegabah dan mengganggu. “Netanyahu seperti anak kecil yang sulit diatur.”
Kekhawatiran ini muncul setelah keputusan Netanyahu di Suriah. Pada Selasa pekan lalu, Israel mengebom konvoi tank-tank militer Suriah yang menuju kota Sweida untuk merespons bentrokan antara milisi Druze dan anggota suku Badui bersenjata, yang menewaskan lebih dari 700 orang menurut Syrian Observatory for Human Rights.
Israel mengklaim bahwa konvoi tersebut menyeberang ke zona selatan Suriah yang mereka tuntut untuk didemiliterisasi, dan bahwa militer Suriah terlibat dalam serangan terhadap kelompok minoritas Druze, yang dibantah oleh Suriah.
Utusan AS Tom Barrack meminta rekan-rekannya dari Israel pada Selasa untuk mundur demi tercapainya resolusi diplomatik, dan pihak Israel berkomitmen untuk melakukannya, menurut seorang pejabat AS. Namun, setelah jeda, Israel justru meningkatkan serangan. Pada Rabu, Israel menjatuhkan bom di markas besar militer Suriah dan di dekat istana kepresidenan.
“Pengeboman di Suriah mengejutkan presiden dan Gedung Putih. Presiden tidak suka menyalakan televisi dan melihat bom dijatuhkan di negara yang sedang mengupayakan perdamaian dan membuat pengumuman monumental untuk membantu pembangunan kembali,” kata seorang pejabat AS.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan kepada Netanyahu dan timnya untuk berhenti pada Rabu. Netanyahu setuju untuk melakukannya sebagai imbalan atas penarikan militer Suriah dari Sweida.
Namun pada saat itu, beberapa negara termasuk Turki dan Arab Saudi telah menyampaikan pesan-pesan kemarahan kepada pemerintahan Trump tentang tindakan Israel, dan beberapa pejabat senior AS telah mengeluh langsung kepada Trump tentang Netanyahu. Di antara para pejabat tersebut adalah Tom Barrack dan utusan Gedung Putih Steve Witkoff. Keduanya adalah teman dekat Trump, menurut seorang pejabat AS.
