Kisruh Royalti Musik dan Pesan Imam Ali Bin Abi Thalib
Di sisi lain, para musisi dan pencipta lagu menuntut hak atas karya mereka yang telah dibuat dengan jerih payah dan kreativitas tinggi. Polemik ini tampaknya tidak hanya sekadar persoalan tarif, hukum, atau regulasi.
Namun, jika ditelusuri lebih dalam, kasus ini mencerminkan dilema besar zaman kita: ketika seni kehilangan esensinya karena segala sesuatu telah diukur dengan logika ekonomi.
Musik, pada intinya, adalah bentuk ekspresi manusia yang paling dalam. Ia adalah suara hati yang mencari makna, mengekspresikan rasa sakit dan cinta, serta menjembatani hal-hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Namun dalam masyarakat modern, musik telah menjadi komoditas: diperdagangkan, diberi nilai, dan dipertandingkan dalam sistem royalti dan algoritma. Yang diukur bukan lagi kedalaman makna, tetapi jumlah putaran, rating, dan potensi monetisasi.
Musik tidak lagi ditulis untuk keindahan atau pesan kemanusiaan, melainkan untuk trending dan keuntungan.
Perubahan ini tidak hanya terjadi di dunia musik. Sejak lama kita menyadari betapa dokter tidak lagi selalu menjadi tabib yang menyembuhkan dengan cinta kemanusiaan, melainkan sering menjadi eksekutor sistem kesehatan yang tersandera oleh asuransi dan biaya rawat inap.
Guru dan dosen tidak lagi sekadar mendidik dan membangun karakter, tetapi menjadi pengumpul angka kredit dan pengejar ‘proyek’ penelitian. Politisi bukan lagi negarawan yang mengabdi kepada rakyat, melainkan manajer elektoral yang digerakkan oleh logika donor dan elektabilitas.
Dan tentunya, pengacara—yang secara historis adalah penjaga keadilan dan pembela yang lemah—kini sering kali menjadi penyedia jasa hukum yang berpihak pada siapa yang mampu membayar lebih besar.
Idealismenya sebagai penegak keadilan perlahan terpinggirkan oleh kebutuhan akan bayaran, klien besar, dan reputasi. Bahkan dalam beberapa kasus, hukum tidak lagi berbicara tentang benar dan salah, tetapi siapa yang memiliki kemampuan retorika dalam menafsirkan dan memenangkan perkara; dan dengan itulah ia dibayar mahal.
