Militer Israel Terpecah, Pimpinan Elite Tolak Pengambilalihan Total Gaza, Inilah Alasannya
BERITA TERBARU INDONESIA, TEL AVIV— Menurut Yedioth Ahronoth, semua pemimpin Dinas Keamanan Israel menolak rencana pendudukan Jalur Gaza dalam rapat kabinet keamanan pada Jumat (8/8/2025).
Berdasarkan laporan dari Wall Street Journal, rencana ini menghadapi sejumlah tantangan.
- Terungkap Microsoft Mendukung Operasi Militer Israel Melalui Rekaman Jutaan Komunikasi Warga Palestina
- Heboh Emas Muncul di Sungai Eufrat Dikaitkan Kiamat, Kapan Sebenarnya Peristiwa Itu Akan Terjadi?
- Ketika Emas Berlimpah di Sungai Eufrat, Mengapa Justru Rasulullah SAW Melarang Mengambilnya?
Surat kabar tersebut mengungkapkan bahwa pertemuan Dewan Keamanan berlangsung selama 10 jam diwarnai perdebatan sengit.
Para pemimpin keamanan menyuarakan penolakan mereka terhadap pendudukan Gaza dalam berbagai tingkatan dan menekankan adanya alternatif lain untuk mencapai tujuan yang sama.
Pertemuan tersebut menjadi arena perselisihan antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Kepala Staf Eyal Zamir, serta beberapa menteri turut mengkonfrontasi Zamir terkait sikapnya.
Menurut laporan Israel, Zamir menggambarkan rencana pendudukan Gaza sebagai jebakan strategis yang akan menguras sumber daya militer selama bertahun-tahun dan menimbulkan risiko bagi nyawa para tahanan.
Menurut Yedioth Aharonoth, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tzachi Hanegbi menyatakan bahwa gambar terbaru yang menunjukkan para tahanan Israel dalam kondisi kurus dan kelaparan tidak memungkinkan dirinya mendukung rencana kosong tersebut.
BACA JUGA: Reaksi Keras Terhadap Pemblokiran Rekening oleh PPATK, Mahfud: Jahat Itu, Terlalu Jahat
“Saya tidak ingin melepaskan kesempatan untuk menyelamatkan setidaknya 10 tahanan. Gencatan senjata akan memungkinkan kita untuk mencoba mencapai kesepakatan tentang mereka,” ujarnya.
The Wall Street Journal mengutip para pejabat Israel yang menyebutkan bahwa kurangnya personel menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi Israel untuk menguasai Gaza.
