Wamen Stella: Menghadapi AI dengan Literasi, Mendiktisaintek: Kampus Bantu RI Jadi Negara Maju
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan bahwa untuk menghadapi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), diperlukan literasi AI, yaitu kemampuan untuk menginterpretasikan hasil dari penggunaan AI.
“Jika kita memiliki literasi AI, kita dapat memutuskan bagaimana menginterpretasikan semua yang dihasilkan oleh AI dan memanfaatkannya. Jangan sampai tidak menggunakan AI, karena itu bukan pesan saya,” kata Stella dalam orasi ilmiah saat Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Universitas YARSI Semester Ganjil Tahun Akademik 2024-2025 di Jakarta, Sabtu (26/4/2025).
Kemampuan literasi AI mencakup berpikir kritis dan analitis dalam penggunaannya, termasuk memverifikasi atau memeriksa ulang data yang diberikan oleh AI.
Hal ini penting agar sektor pendidikan dapat menghadapi era AI yang mulai memasuki berbagai aspek kehidupan. Stella menambahkan bahwa selain literasi AI, pengguna juga perlu mampu membuat keputusan dan pengecualian.
Kemampuan ini sangat dibutuhkan agar individu tidak tertinggal oleh AI, yang mampu membaca data dan mengingat lebih baik dari manusia.
“Yang sangat penting adalah pemahaman tentang manusia. Artinya, jika Anda tidak ingin digantikan AI, Anda harus bisa memahami sesama manusia,” ujarnya.
Dia mencontohkan bahwa dalam merancang aplikasi berbasis AI, dibutuhkan juga sudut pandang manusia sebagai pengguna. AI adalah alat, bukan prioritas utama.
Ketiga faktor ini diperlukan oleh perguruan tinggi yang berperan sebagai tempat untuk membentuk sumber daya manusia dengan pemikiran riset yang dapat menghasilkan tenaga kerja spesialis dan adaptif.
Tata Kelola AI
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membawa tantangan baru di seluruh dunia. Oleh karena itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menilai bahwa tata kelola AI semakin diperlukan agar pemanfaatan AI dapat dilakukan dengan aman dan produktif.
“Ini adalah hal baru dan tantangan bagi pengembangan aturan tentang AI. Oleh sebab itu, tata kelola AI semakin diperlukan agar pemanfaatannya aman dan produktif,” ujar Wakil Menteri Kominfo Nezar Patria beberapa waktu lalu.
