Asal Usul Hari Buruh: Cerita di Balik May Day
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Tanggal 1 Mei dikenal sebagai perayaan hari buruh internasional, yang juga sering disebut sebagai May Day. Peristiwa ini dirayakan oleh para pekerja di berbagai belahan dunia. Biasanya, para buruh mengorganisasi aksi massa untuk menuntut pemenuhan hak-hak mereka.
Apa sebenarnya sejarah di balik hari buruh ini? Menurut sumber dari laman Marxists, asal-usul May Day erat kaitannya dengan perjuangan para pekerja untuk mendapatkan jam kerja yang lebih singkat, yang menjadi tuntutan utama bagi kelas pekerja.
- Saat Letjen Kunto Arief Wibowo Masuk Kotak, Laksda Hersan Melejit
- Hansi Flick Puji Yamal Setelah Jadi Inspirator Kebangkitan Barcelona Lawan Inter
- Iran Eksekusi Mati Mata-Mata Mossad Bantu Bunuh Kolonel, Keluarga Menepis Tuduhan
Perjuangan ini dimulai hampir sejak awal kemunculan sistem pabrik di Amerika Serikat (AS). Tuntutan untuk mendapatkan upah yang lebih layak juga menjadi alasan umum dari pemogokan awal di AS, selain harapan untuk memperoleh jam kerja yang lebih manusiawi serta hak untuk berserikat.
Keluhan mengenai jam kerja dari pagi hingga malam (sekitar 14-18 jam sehari) telah diungkapkan oleh pekerja di AS sejak awal abad ke-19. Karena eksploitasi yang semakin intensif, para pekerja mulai merumuskan tuntutan kepada para pemilik pabrik dan pemerintah.
Era 1820-an hingga 1830-an dipenuhi dengan pemogokan terkait tuntutan-tuntutan tersebut. Serikat Mekanika Philadelphia dikenal sebagai serikat buruh pertama di dunia, yang dibentuk setelah pemogokan pekerja bangunan di Philadelphia pada 1827.
Namun, pemogokan pertama di kalangan para pekerja AS terjadi pada tahun 1806, dilakukan oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan tersebut kemudian mengusung perjuangan untuk menuntut pengurangan jam kerja sebagai agenda bersama kelas pekerja di AS.
Pada 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di New York, AS. Sekitar 20 ribu orang berparade dengan membawa spanduk bertuliskan ‘8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi’. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar ke seluruh negara bagian di AS.
Perjuangan ini berlanjut dengan kongres internasional pertama pada September 1866 di Jenewa, Swiss, yang menetapkan tuntutan pengurangan jam kerja menjadi delapan jam sehari. Di tahun yang sama, upaya ini juga telah dilakukan oleh National Labour Union di AS.
