Siapakah Mereka yang Kematiannya Ditangisi?
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Semith, melalui kitabnya, Fawaidul Mukhtaroh, menyebutkan lima golongan manusia yang kematiannya menjadi kehilangan bagi banyak orang.
Jika kelima kelompok ini wafat, banyak yang merasa sedih dan meratapi kepergiannya. Mereka merupakan sosok-sosok utama yang patut kita teladani perilakunya.
- Di Momen Hardiknas 2025, Prabowo Resmi Luncurkan PHTC
- Kapuspen Tegaskan Mutasi Letjen Kunto dan Akhirnya Batal tak Terkait Try Sutrisno
- BGN akan Usut Tuntas dan Evaluasi Kasus Keracunan MBG
Pertama, pengajar Alquran. Mereka yang mempelajari dan mengajarkan Alquran adalah yang terbaik. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).
Mengajarkan Alquran bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang mengajarkan cara membaca, menghafal, qiraah, serta tafsir dan ajaran agama lainnya yang terkandung di dalamnya.
Rasulullah SAW adalah pengajar Alquran terbaik sepanjang masa. Beliau tidak hanya mengajarkan, tetapi juga mengamalkan Alquran dalam kehidupannya, sehingga beliau dijuluki sebagai Alquran berjalan. Maka wafatnya Nabi SAW menjadi duka mendalam bagi umat Islam.
Hal ini juga berlaku pada generasi-generasi berikutnya. Meninggalnya para ahli Alquran yang mau berbagi ilmu selalu meninggalkan rasa kehilangan bagi orang lain.
Kedua, pahlawan pemberani. Mereka yang berani mengorbankan diri demi bangsa, negara, agama, atau keluarga.
Seorang ayah yang bertanggung jawab tentu menjadi pahlawan bagi keluarganya. Ia rela bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mendidik istri serta anak-anaknya agar selalu dekat dengan nilai-nilai agama.
Begitu pula seorang istri yang menjalankan perannya dengan baik menjadi pahlawan yang berharga bagi suami dan anak-anaknya.
Usahanya mengorbankan waktu dan tenaga untuk melayani suami dan merawat serta menjaga anak-anaknya sangat layak dihargai.
Oleh karena itu, wafatnya Khadijah, istri Rasulullah SAW, dan Abu Thalib membuat Rasulullah SAW sangat bersedih. Bahkan tahun meninggalnya disebut sebagai amul huzni (tahun kesedihan).
