Belasan Pelajar SMP dan SMA di Bandung Barat Diamankan dalam Razia Satpol PP
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG BARAT — Sebanyak 17 pelajar SMP dan SMA di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, tertangkap basah sedang membolos saat jam sekolah pada Kamis (8/5). Mereka kemudian dibawa ke Kantor Satpol PP KBB.
Penangkapan belasan pelajar yang tidak mengikuti kelas atau sering disebut membolos dalam Bahasa Sunda ini terjadi ketika personel Satpol PP KBB melakukan razia terhadap anak jalanan di kawasan Padalarang. Dalam razia tersebut, ditemukan pelajar yang sedang ngopi di warung, nongkrong di pinggir jalan, dan tempat lainnya yang biasa digunakan untuk membolos.
Kepala Satpol PP KBB, Ludi Awaludin, menjelaskan, “Awalnya kami sedang melakukan kegiatan penertiban terhadap anak jalanan, namun dalam praktiknya juga ditemukan anak sekolah yang membolos. Oleh karena itu, kami amankan juga,” katanya saat dikonfirmasi.
Ludi mengungkapkan bahwa para pelajar tersebut memiliki berbagai alasan untuk membolos. Mulai dari terlambat datang ke sekolah hingga tidak menyukai mata pelajaran seperti matematika, sehingga memutuskan untuk meninggalkan sekolah sebelum waktunya.
“Alasannya macam-macam, ada yang bilang tidak suka pelajaran matematika, dan ada juga yang memang malas sekolah. Namun, alasan apapun tidak dibenarkan, sehingga kami amankan dan akan kami bina,” ungkap Ludi.
Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan pelajar yang membawa benda berbahaya seperti senjata tajam untuk tawuran, maupun obat-obatan terlarang dan narkotika.
“Tidak ada benda seperti itu, jadi murni mereka memang membolos. Kami data dan panggil sekolahnya agar tidak mengulangi perbuatan tersebut,” jelas Ludi.
Ludi menambahkan bahwa penindakan ini juga merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terkait pembinaan karakter dan kedisiplinan pada pelajar sampai program pendidikan di barak militer.
“Ya, dalam rangka itu juga, cuma memang sejauh ini aktivitas mereka ini tidak sering sehingga belum sampai ke sana (dikirim ke barak). Namun jika di kemudian hari kejadian ini terulang, tentu bisa saja dikirim ke sana,” tambahnya.
