Perjalanan Harun Al Rasyid Menunaikan Haji dengan Berjalan Kaki
BERITA TERBARU INDONESIA, BAGHDAD — Harun ar-Rasyid adalah salah satu khalifah ternama dalam sejarah Islam, yang membawa banyak kemajuan pada masanya. Walaupun dikenal luas, dia selalu setia menjalankan ibadah agamanya. Setiap pagi, dia menyumbangkan 1.000 dirham untuk amal dan secara rutin melaksanakan sholat 100 rakaat setiap hari, dilengkapi dengan banyak zikir dan doa.
Dia menunaikan haji ke Makkah dengan menaiki unta sebanyak tujuh kali. Jaraknya mencapai 1.750 mil dari Baghdad, untuk perjalanan pergi dan pulang. Perjalanan haji ini dimulai setelah dia naik takhta. Haji kedelapan dari Rakkah di Suriah ke Makkah dilakukan dengan berjalan kaki.
Seorang sejarawan menulis, “Membayangkan jarak yang ditempuh dan kerasnya gurun yang harus dilaluinya memberi gambaran tentang ketahanan dan keteguhan karakternya,”
Harun adalah satu-satunya khalifah yang menuntut dirinya dengan kewajiban yang sangat berat. Mungkin dia adalah satu-satunya yang memaksa dirinya sendiri untuk melakukan begitu banyak sujud dalam sholat hariannya.
Benson Bobrick dalam The Caliph’s Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad menuliskan bahwa selama perjalanan haji, Harun juga memberikan harta yang sangat besar kepada penduduk Makkah dan Madinah, dua kota paling suci dalam Islam. Dia juga memberikan kepada jemaah haji yang kurang mampu sepanjang perjalanannya.
“Selalu ada sejumlah orang zuhud yang dia biayai dalam rombongannya. Ketika pada tahun tertentu dia tidak bisa berangkat haji sendiri, dia mengirimkan beberapa wakil dengan posisi tinggi bersama 300 pegawai. Semua biaya dia yang menanggung,” kata Bobrick.
Stempelnya berukirkan tulisan “Harun tawakal pada Tuhan”. Dalam praktiknya, dia tampaknya menjelmakan keyakinan bahwa haji adalah salah satu dari lima pilar agama.
Pemerintahannya juga menghidupkan kembali arti penting tempat-tempat suci. Alasan politik menjadikan ibadah haji ke Makkah sebagai peristiwa propaganda yang mengesankan.
Khaizuran, ibunda Khalifah Harun ar-Rasyid, mengikuti jejaknya. Pada 788 M, dia melakukan perjalanan hajinya sendiri sebagai ibu suri. Dalam perjalanan itu, dia memberikan sumbangan besar kepada rakyat. Berkali-kali, dia memerintahkan pembangunan tempat bernaung, pancuran air, atau masjid di sepanjang rute perjalanan haji.
Dia tampaknya juga orang pertama yang mengadopsi gagasan untuk melestarikan bangunan bersejarah. Di Makkah, tempat dia tinggal beberapa bulan, Khaizuran mendanai restorasi rumah tempat Nabi dilahirkan.
Selain itu, dia memperbaiki sebuah bangunan yang dikenal sebagai Rumah Arqam, tempat berkumpulnya umat Islam awal.
Belakangan, keduanya dimuliakan sebagai tempat suci. Dengan cara ini, Khaizuran semakin meningkatkan kedudukannya yang mulia sambil memberikan lebih banyak cap religius pada pemerintahan putranya.
Harun memberinya penghormatan yang tidak diberikan Hadi, saudaranya. Ketika Khaizuran meninggal dalam usia 50 pada November 789 M, Harun berjalan tanpa alas kaki melalui lumpur di depan peti jenazahnya menuju makam.
Saat tiba di pemakaman di tepi barat Tigris, dia membasuh kakinya dan mengenakan sepasang sepatu bot baru. Sebagai perpisahan, dia membacakan eulogi Ibnu Nuwairah yang terkenal, yang dibacakan Aisyah, istri Nabi Muhammad, di atas pusara ayahnya sekaligus khalifah pertama, Abu Bakar.
Menurut Bobrick, pada masa keluarga Abbasiyah berkuasa, penaklukan Islam sudah berjalan dengan baik. Namun, perbatasan Bizantium terus bergeser. Setelah mengalami beberapa kemunduran, Kerajaan Abbasiyah berusaha menekan kembali. “Dua serangan Harun yang spektakuler ketika masih menjadi pangeran mahkota merangsang keinginannya untuk mencapai tujuan ini,” ujarnya.
Tahun demi tahun, untuk meningkatkan kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam, dia terjun ke medan perang. Di perbatasan barat Kerajaan Abbasiyah sering terjadi bentrokan. Hal ini terjadi karena kedua belah pihak menempatkan pasukan di sepanjang garis pertahanan berkubu yang membentang di seluruh Asia Kecil atau Anatolia, dari Suriah hingga perbatasan Armenia.
