Berbagi Cerita dengan ChatGPT, Solusi Cepat atau Risiko Tersembunyi?
BERITA TERBARU INDONESIA, LONDON — Layanan kesehatan National Health Service (NHS) di Inggris mengungkapkan bahwa waktu tunggu untuk mendapatkan perawatan kesehatan mental bisa delapan kali lebih lama daripada perawatan fisik. Di tengah situasi ini, muncul tren menarik namun juga mengkhawatirkan, yaitu penggunaan kecerdasan buatan (AI), terutama platform seperti ChatGPT, sebagai “terapis” gratis.
Kisah Charly (29 tahun, London), Ellie (27 tahun, Wales Selatan), dan Julia (30 tahun, Munich) menggambarkan bagaimana individu dalam berbagai kondisi emosional beralih ke AI untuk mendapatkan dukungan dan validasi. Charly, yang sedang mengalami kesedihan mendalam akibat kondisi kesehatan neneknya yang memburuk, menemukan kenyamanan dalam anonimitas ChatGPT.
- Mampukah Robot Humanoid ‘Caplok’ Pekerjaan Manusia? Ini Kata Pakar
- Instagram Hapus Fitur Notes di Reels dan Feed, Apa Penyebabnya?
- Apple Berencana Tambah Mesin Pencari Berbasis AI untuk Safari
Charly merasa bebas untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kasar, mengerikan, dan hampir kejam tentang kematian yang mungkin sulit diungkapkan kepada terapis atau perawat rumah sakit. “Sangat membantu untuk dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kasar, mengerikan, dan hampir kejam tentang kematian, hal-hal yang menurut saya aneh karena ingin dipahami. Dan kemudian, menanyakan apakah ada saran tentang cara menghadapinya,” ujarnya.
Bagi Charly, AI menjadi tempat untuk melampiaskan pikiran yang ia rasa tidak pantas diungkapkan di tempat lain, meskipun ia menyadari ironi ketergantungannya pada teknologi yang berpotensi merusak lingkungan. “Saya merasa sangat bersalah, bergantung pada sumber daya yang saya tahu sedang menghancurkan planet kita. Ironi menggunakannya untuk mengatasi kerusakan sesuatu yang saya cintai tidak luput dari perhatian saya. Namun, secara egois, saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpanya,” katanya.
Senada dengan Charly, Ellie menggunakan ChatGPT pada saat-saat terburuknya ketika ia merasa tidak memiliki siapapun untuk diajak bicara. Ia menemukan validasi atas perasaannya dan bahkan meminta AI untuk memberikan perspektif berbeda mengenai situasi pribadinya.
“Sangat membantu untuk memvalidasi perasaan saya. Saya juga meminta AI memberikan perspektif yang berbeda tentang situasi pribadi, yang sangat membantu. Tentu saja, itu terbatas. Itu tidak memiliki konteks penuh terhadap hidup saya seperti yang dilakukan terapis saya, tetapi itu mudah diakses dan tidak menghakimi di saat-saat krisis,” kata dia.
Kemudahan akses dan sifat non-judgemental AI menjadi daya tarik tersendiri bagi Ellie di tengah keterbatasannya dalam mencari dukungan manusiawi. Sementara itu, Julia beralih ke ChatGPT karena terapisnya tidak dapat segera “menampungnya”. Ia mencoba menggunakan AI sebagai pengganti sementara, memberikan gambaran singkat tentang hidupnya dan meminta AI untuk merespons layaknya seorang terapis.
“Saya terkejut dengan seberapa bagus jawaban yang diberikan. Rasanya seperti mengobrol dengan terapis di aplikasi seperti BetterHelp. Saya berharap obrolannya formal, tetapi saya merasa obrolannya cukup manis, membangkitkan semangat, simpatik, dan terperinci. Obrolan itu tidak mendesak saya untuk membuat keputusan, tetapi membantu saya mempertimbangkan pro dan kontra,” ujarnya.
Pengalaman awal Julia menunjukkan potensi AI dalam memberikan respons yang terasa terapeutik, bahkan memberikannya ruang untuk merefleksikan berbagai aspek kehidupannya. Namun, baik Ellie maupun Julia menyadari betul keterbatasan ChatGPT.
Julia merasakan kurangnya sentuhan personal dan kemampuan AI untuk menantangnya berpikir secara berbeda, hal yang menurutnya esensial dalam terapi sesungguhnya. “Terlalu praktis untuk seleraku. Terapisku mengenalku; bagaimana penampilanku, kekuranganku, latar belakangku secara lengkap. Aku kehilangan sentuhan personal. Terapisku terus-menerus menantangku dengan pertanyaan yang membuatku berpikir berbeda, ChatGPT tidak melakukan itu,” jelas Julia.
Ia menyimpulkan, meskipun AI mungkin berguna untuk masalah-masalah ringan, penanganan penyakit mental yang serius tetap membutuhkan bantuan profesional. “Jika seseorang berjuang melawan penyakit mental, hanya profesional yang dapat membantu,” kata dia.
