Bagaimana Menjadikan Tidur sebagai Ibadah?
BERITA TERBARU INDONESIA, MAKKAH — Dalam Islam, ibadah meliputi berbagai aktivitas yang dilakukan seorang hamba. Bahkan tidur pun dapat dianggap sebagai ibadah yang memperoleh pahala dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang sudah berniat untuk sholat malam, tetapi kemudian tertidur, Allah tetap memberinya ganjaran pahala atas niat sholatnya. Tidurnya dinilai sebagai sedekah untuk dirinya.” (HR Malik, Abu Dawud, dan An-Nasa’i)
Ulama Mesir, Syekh Muhammad Abu Bakar, menjelaskan bahwa hadits tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak perlu merasa bersedih ketika ibadah yang sudah diniatkannya untuk dilaksanakan pada malam hari, ternyata tidak dapat dilakukan karena tertidur. Rahmat Allah SWT sangat luas dan karunia-Nya begitu besar.
“Setiap ibadah yang hendak dilakukan pada malam hari seperti sholat, berdzikir, bertaubat, tetapi ia tertidur, maka tetap dihitung sebagai pahala. Tidurnya menjadi sedekah dan rahmat dari Allah untukmu,” kata beliau.
Guru Besar Syariah Universitas Al-Azhar, Syekh Dr Mabruk Attiya, juga menyatakan bahwa tidur bisa menjadi ibadah bila orang yang tidur tersebut berniat untuk beristirahat demi Allah SWT.
Syekh Attiya juga mengutip perkataan sahabat Rasulullah SAW, Muadz bin Jabal. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Muadz berkata, “Aku tidur dan sholat malam. Dan aku berharap pahala dari tidurku sebagaimana pahala yang aku harapkan dari sholat malamku.” (HR Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, terdapat perbedaan yang signifikan antara tidur yang biasa dengan tidur yang dinilai sebagai ibadah. Tidur yang dianggap sebagai ibadah adalah tidur yang dilakukan dengan niat untuk bangun melaksanakan ibadah di malam hari.
Tidur yang dihitung sebagai pahala juga adalah tidur yang membuat seorang hamba dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan meningkatkan amal kebaikan setelah bangun dari tidurnya.
Namun, tidur yang tidak bernilai meski dilakukan saat berpuasa, adalah ketika seseorang tidur hingga waktu Maghrib tiba. Tidur seperti ini hanya membuang-buang waktu dengan aktivitas yang tidak bermanfaat.
Hal tersebut bertentangan dengan makna puasa itu sendiri dan tidak dibenarkan. Tidur saat berpuasa juga menjadi tercela ketika lebih diutamakan dibandingkan melakukan amal kebaikan.
Allah SWT berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS Ar-Rum ayat 23)
