Harga Emas Menurun, Analis Ingatkan Dampak Sementara dari Gencatan Perang Dagang
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tren penurunan harga emas dunia dan harga emas Antam adalah fenomena yang biasa terjadi. Ibrahim memaparkan beberapa faktor yang menyebabkan harga emas terus mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.
“Penurunan ini sangat wajar karena situasi global sedang membaik,” ujar Ibrahim kepada BERITA TERBARU INDONESIA di Jakarta, Kamis (15/5/2025).
Ibrahim menyebutkan bahwa pengurangan tarif impor AS dan Cina secara sementara berdampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi global. Ibrahim juga menyebutkan bahwa kunjungan Presiden AS Donald Trump ke beberapa negara di Timur Tengah turut membantu memulihkan kepercayaan pasar global.
Ibrahim menambahkan bahwa realisasi kesepakatan dagang AS dengan Inggris, Jepang, dan Korea Selatan semakin meredakan ketegangan ekonomi global. Situasi ini juga meningkatkan yield obligasi AS atau tingkat imbal hasil secara signifikan.
“Ini yang membuat investor kembali mengalihkan dananya dari save haven ke pasar modal,” kata Ibrahim.
Ibrahim menyatakan bahwa stabilitas ekonomi global akan menjadi pertimbangan bagi bank sentral AS untuk menurunkan suku bunga. Ibrahim menekankan bahwa bank sentral AS sedang menunggu laporan data PPI dan penjualan ritel untuk menentukan arah kebijakan suku bunga.
“Jika PPI dan penjualan ritel menunjukkan hasil yang positif, bank sentral AS bisa saja menurunkan suku bunga, bahkan mungkin empat kali tahun ini,” lanjut Ibrahim.
Meskipun demikian, Ibrahim mengingatkan tentang efek sementara dari kesepakatan tarif impor yang berlangsung selama 90 hari. Menurutnya, harga emas dunia berpotensi meningkat kembali setelah periode penerapan tarif impor sementara tersebut berakhir.
“Bisa jadi Agustus ini kembali memanas. Artinya, hanya tiga bulan tenang, setelah itu tarif impor bisa mencapai 30 persen, yang cukup besar. Pada periode pertama, tarif 10-25 persen saja sudah berdampak besar pada ekonomi global, apalagi 30 persen,” kata Ibrahim.
Ibrahim menambahkan bahwa potensi ini bisa benar-benar terjadi mengingat model kepemimpinan Donald Trump. Ia menyebutkan bahwa Trump masih memiliki masa jabatan yang cukup panjang dengan dukungan mayoritas kongres dari Partai Republik.
“Artinya, Trump akan lebih aman dalam periode kedua ini. Jadi, kemungkinan besar harga emas dunia masih akan cenderung menguat,” kata Ibrahim.
