Mengapa Lingkar Pinggang Sebaiknya Tak Lebih dari Setengah Tinggi Badan? Ini Kata Pakar Kesehatan
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Para pakar kesehatan menekankan pentingnya menjaga lingkar pinggang agar tidak melebihi setengah tinggi badan. Ukuran ini dianggap sebagai indikator penting dalam memprediksi dan mencegah beragam masalah kesehatan serius di kemudian hari.
Penumpukan lemak berlebihan di area perut, yang sering kali tidak terdeteksi hanya dengan berat badan atau Indeks Massa Tubuh (BMI), ternyata berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan beberapa jenis kanker. BMI merupakan metode umum untuk menilai apakah seseorang memiliki berat badan yang sehat. Bagi kebanyakan orang, BMI dapat dengan akurat menilai apakah berat badan mereka sesuai dengan tinggi badan. Rentang BMI antara 18 hingga 25 dianggap sehat, 25 hingga 30 menunjukkan kelebihan berat badan, dan lebih dari 30 dikategorikan sebagai obesitas.
Namun, Lembaga Kesehatan dan Perawatan Nasional (Nice) di Inggris menegaskan bahwa orang dewasa dengan BMI di bawah 35 juga harus mengukur rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan mereka demi kesehatan yang lebih baik. Dengan menggunakan rasio ini bersama dengan BMI, individu dapat mengetahui apakah mereka memiliki lemak berlebih di sekitar perut mereka.
Lemak visceral diketahui meningkatkan risiko berbagai kondisi serius, termasuk diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung.
Siapa pun yang ingin mengetahui rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badannya dapat menggunakan kalkulator daring atau meminta bantuan profesional kesehatan untuk menghitungnya. Untuk mengukur lingkar pinggang, seseorang harus menemukan bagian bawah tulang rusuk dan bagian atas pinggul, melilitkan pita pengukur di sekitar pinggang di tengah kedua titik tersebut, dan mengembuskan napas secara alami sebelum melakukan pengukuran.
Misalnya, seorang wanita dengan tinggi badan 163 cm dan lingkar pinggang 74 cm akan memiliki rasio yang sehat. Namun, jika lingkar pinggangnya mencapai 81 cm, rasionya akan masuk kategori tidak sehat. Seorang pria dengan tinggi 178 cm akan menghadapi risiko kesehatan lebih tinggi jika lingkar pinggangnya mencapai 91 cm.
Pedoman menyebutkan bahwa rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan yang sehat adalah 0,4 hingga 0,49, yang menunjukkan tidak ada peningkatan risiko kesehatan. Rasio 0,5 hingga 0,59 menempatkan seseorang pada risiko kesehatan yang meningkat, sementara rasio 0,6 atau lebih menunjukkan risiko kesehatan yang paling tinggi.
Menurut Direktur Pusat Pedoman Nice, dr. Paul Chrisp, pedoman ini menawarkan cara yang sederhana dan efektif bagi masyarakat untuk mengukur berat badan mereka. “Pedoman ini menawarkan cara sederhana dan efektif bagi masyarakat untuk mengukur berat badan mereka sehingga mereka dapat memahami faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesehatan mereka dan mengambil tindakan untuk mengatasinya,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa Komite Nice menemukan bahwa manfaat jelas dari penggunaan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan adalah kemudahan bagi individu untuk mengukurnya sendiri, menginterpretasikan hasilnya, dan mencari nasihat medis jika mereka berada pada peningkatan risiko kesehatan. Pedoman ini juga menetapkan cara-cara untuk menilai obesitas pada anak-anak dan menyatakan bahwa rencana yang disesuaikan harus dipertimbangkan untuk anak-anak dengan BMI tinggi atau rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan di atas 0,5.
Anggota komite pedoman Nice, Profesor Rachel Batterham, seorang konsultan di bidang obesitas, diabetes, dan endokrinologi, menjelaskan bahwa peningkatan lemak di perut meningkatkan risiko seseorang terkena berbagai penyakit yang membatasi hidup, termasuk diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. “Rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan adalah ukuran yang sederhana dan mudah digunakan untuk mengidentifikasi orang-orang yang berisiko tinggi terhadap masalah kesehatan dan akan mendapatkan manfaat dari dukungan pengelolaan berat badan untuk meningkatkan kesehatan mereka,” ujarnya.
