Bahaya Tersembunyi Pasta Gigi Arang, Menurut Dokter Gigi
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Pasta gigi berbahan arang atau charcoal masih menjadi favorit banyak orang yang menginginkan gigi tampak lebih putih dengan cara alami. Namun, di balik kemasan yang menarik dan janji pemutihan cepat, para ahli berpendapat tren ini mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan prinsip kesehatan gigi yang tepat.
Dr. Vimal Arora, seorang dokter gigi dan Kepala Petugas Klinik di Clove Dental India, menjelaskan bahwa meskipun charcoal dikenal sebagai bahan alami yang efektif menyerap noda dan racun, penggunaannya dalam pasta gigi perlu dievaluasi dengan hati-hati.
Menurutnya, pasta gigi yang mengandung charcoal sering kali dipasarkan sebagai produk detoks dan pemutih alami. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua yang alami otomatis aman dipakai setiap hari.
Dr. Arora menyoroti bahwa masalah utama dari pasta gigi arang adalah sifat abrasifnya. Meskipun dapat menghilangkan noda di permukaan gigi dan memberikan efek putih seketika, penggunaan jangka panjang bisa mengikis enamel, lapisan pelindung gigi, yang dapat menyebabkan peningkatan sensitivitas gigi.
Ini terkait dengan tingkat abrasi yang diukur menggunakan skala Relative Dentin Abrasivity (RDA). Pasta gigi berbahan silika biasanya memiliki RDA antara 70 hingga 100, yang masih dianggap aman. Namun, pasta gigi dengan charcoal bisa mencapai tingkat di atas 200, yang dapat berpotensi merusak dentin, lapisan di bawah enamel.
Dr. Arora menyatakan, semakin tinggi angka RDA, semakin besar risiko gigi menjadi aus, terutama jika digunakan setiap hari.
Selain abrasivitas yang tinggi, pasta gigi arang juga sering kali tidak mengandung fluoride, zat yang terbukti secara klinis dapat mencegah kerusakan gigi. Tanpa fluoride, perlindungan terhadap gigi berlubang pun menjadi berkurang.
Dr. Arora mengingatkan bahwa meskipun konsep penggunaan charcoal dalam perawatan gigi berasal dari praktik nenek moyang, formulasi modern tetap harus melalui pengujian ilmiah yang ketat, bukan sekadar mengikuti tren atau tradisi.
Beliau menambahkan bahwa sebagai profesional, mereka selalu menyarankan konsumen untuk memilih pasta gigi yang tidak hanya aman, tetapi juga didukung oleh bukti ilmiah. Jangan hanya terpikat pada klaim alami di kemasan.
