Mengenal SVT, Gangguan Ritme Jantung yang Bisa Terjadi pada Usia Muda
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Detak jantung yang tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan yang jelas, terutama saat tubuh dalam kondisi istirahat, bisa menjadi tanda awal adanya gangguan ritme jantung atau aritmia. Meskipun sering dianggap remeh, gangguan ini dapat membahayakan nyawa, terutama pada individu muda yang tampak sehat.
“Kondisi ini berpotensi serius dan memerlukan penanganan medis yang tepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut,” ujar Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia Dony Yugo Hermanto, Kamis (22/5/2025).
Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Siloam TB Simatupang menjelaskan bahwa gangguan jantung ini tidak hanya menyerang orang lanjut usia, tetapi juga dapat terjadi pada orang muda.
Salah satu jenis aritmia yang sering muncul adalah Supraventricular Tachycardia (SVT). Dalam kondisi ini, jantung berdetak sangat cepat, sering muncul tiba-tiba dan menghilang sendiri, sehingga sulit terdeteksi.
“Jika dibiarkan dalam jangka panjang, komplikasi yang dapat terjadi termasuk gagal jantung, stroke, hingga kematian,” jelasnya.
Menurut Dony, obat-obatan tidak bisa sepenuhnya menyelesaikan masalah ini. Yang efektif untuk mengatasi SVT adalah prosedur ablasi, yang bertujuan untuk menghilangkan jalur listrik abnormal di jantung secara permanen.
“Dengan mencari dan menonaktifkan jaringan listrik berlebih tersebut. Proses ini dilakukan dengan pemanasan menggunakan energi frekuensi radio guna menghentikan aktivitas listrik abnormal di area yang bermasalah,” katanya.
Menurut Dony, prosedur ablasi memiliki tingkat efektivitas yang tinggi dalam mengatasi SVT, yaitu sekitar 90-95 persen. Sementara itu, pengobatan dengan obat-obatan bertujuan untuk menekan aktivitas listrik dari jalur atau generator tambahan di jantung, tetapi tidak menghilangkan sumber gangguan tersebut.
“Fungsi obat hanya untuk mengontrol tapi tidak mengatasi masalah. Akibatnya, risiko kekambuhan tetap tinggi, dan efektivitas pengobatan dengan obat diperkirakan hanya sekitar 20 persen,” jelasnya.
