Saat Para Penyihir Beriman kepada Allah
BERITA TERBARU INDONESIA, KAIRO — Tersebutlah cerita bahwa Firaun pernah memanggil para penyihir dari seluruh negeri untuk datang ke Mesir. Firaun menugaskan mereka untuk menunjukkan keterampilan sihir mereka dan menantang Nabi Musa, dengan iming-iming hadiah besar.
Para penyihir tersebut melemparkan tali yang kemudian berubah menjadi ular-ular kecil. Nabi Musa kemudian melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi ular besar dan menelan ular-ular kecil tersebut. Melihat mukjizat ini, para penyihir beriman kepada Nabi Musa dan meninggalkan Firaun.
Mengetahui kejadian tersebut, Firaun sangat marah dan mengancam akan menyiksa para penyihir yang telah beriman kepada Allah.
Kisah kemarahan Firaun dan iman para penyihirnya ini diabadikan dalam Alquran, Surah Thaha ayat 71-76:
Dia (Firaun) berkata, “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia itu pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Maka sungguh, akan kupotong tangan dan kakimu secara bersilang, dan sungguh, akan aku salib kamu pada pangkal pohon kurma dan sungguh, kamu pasti akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksaannya.
Mereka (para penyihir) berkata, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini.
Kami benar-benar telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).
Sesungguhnya barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sungguh, baginya adalah neraka Jahanam. Dia tidak mati (terus merasakan azab) di dalamnya dan tidak (pula) hidup (tidak dapat bertobat).
Tetapi barang siapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia), (yaitu) Surga-Surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri.”
