Tren Membongkar Aib: Pandangan Agama yang Berbeda
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA— Menurut syariat, kita dianjurkan untuk menutupi aib seseorang dan dilarang mencari-cari kesalahan orang lain untuk diumbar ke publik.
Tujuannya adalah untuk melindungi kehormatan individu, menjaga masyarakat dari perilaku tercela, serta memelihara hubungan kasih sayang di antara umat Muslim.
- Sistem Kesehatan Gaza Utara Mengalami Krisis, RS Indonesia Terancam Hancur
- Pengakuan Pilot Jet Tempur: Kami Tertekan Secara Batin
- Serangan ISIS ke Pemerintah Suriah Setelah Assad Tumbang
Namun, sayangnya, ada sebagian orang yang tidak mematuhi ajaran ini dan berupaya mengungkap rahasia orang lain. Hal ini semakin marak di era modern melalui berbagai media, termasuk media sosial.
Banyak kasus di mana seseorang merasa tertekan hingga melakukan tindakan tragis akibat rumor yang menyebar, atau karena foto-foto yang dipublikasikan. Ironisnya, sering kali terbukti setelahnya bahwa semua itu hanya kebohongan.
Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, membuka aib seorang Muslim untuk mempermalukannya merupakan dosa besar. Beliau merujuk pada hadits Nabi SAW yang menyatakan:
“Barangsiapa yang menutupi aurat saudaranya sesama Muslim, maka Allah akan menutupi auratnya pada hari kiamat, dan barangsiapa yang menyingkap aurat saudaranya sesama Muslim, maka Allah akan menyingkap auratnya hingga dia menyingkapnya di rumahnya sendiri.” (HR Muslim).
BACA JUGA: Muncul di Terowongan Bawah Masjid Al-Aqsa, Netanyahu: Al-Quds adalah Ibu Kota Abadi Israel
Ibnu Hajar juga menambahkan, “Membuka dan mengumbar aib adalah bentuk hukuman yang pasti. Ini dapat menyebabkan penyebaran keburukan, kerusakan, dan permusuhan,” jelasnya.
