Kisah 13 Ibu di Bandung: Bertahun-tahun Mengembangkan Sorgum Sebagai Alternatif Nasi Bergizi
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG — Sejumlah 13 ibu yang merupakan bagian dari kelompok tani wanita Bojongmanggu di Pameungpeuk, Kabupaten Bandung telah memulai budidaya sorgum sejak lebih dari sepuluh tahun lalu. Inisiatif budidaya sorgum di daerah ini dimulai oleh H Supardi, yang dikenal dengan sebutan Abah Sorgum, sejak tahun 1999.
Menurut Neneng Suprianingsih, salah satu pembudidaya, tanaman sorgum yang berasal dari Afrika ini bisa tumbuh di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Desa Bojongmanggu, Pameungpeuk, Kabupaten Bandung. Di Jawa Barat, sorgum sudah mulai dibudidayakan sejak tahun 1965 dengan nama yang berbeda-beda di setiap wilayah.
Di Kampung Bojongmanggu, beberapa lahan digunakan khusus untuk menanam sorgum. Setiap anggota kelompok tani mendapatkan tugas untuk mengolah hasil panen sorgum tersebut.
Produk-produk olahan sorgum telah didistribusikan ke berbagai daerah, seperti Depok, Bekasi, Tangerang, Jakarta, hingga Denpasar. Neneng menjelaskan bahwa sorgum adalah makanan yang kaya gizi, tinggi serat, dan bebas gluten. Bahkan, sorgum dapat menjadi pengganti gandum dan nasi.
“Untuk kesehatan, mencegah diabetes, dan kanker, disarankan mengonsumsi sorgum,” ujar Neneng pada Sabtu (28/6/2025).
Ia menambahkan bahwa serat dan nutrisi dalam sorgum memiliki manfaat dalam mencegah penyakit. Namun, memperkenalkan sorgum sebagai alternatif pangan pengganti nasi dan gandum menghadapi tantangan tersendiri di masyarakat.
Hal ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat yang sudah lama mengonsumsi nasi. Namun, dengan kemajuan teknologi dan media sosial, promosi terus dilakukan untuk menjangkau generasi milenial dan Z.
Kelompok tani ini juga bekerja sama dengan Telkom University untuk membuat kemasan produk yang lebih menarik bagi pasar dan memanfaatkan platform untuk promosi sorgum. Mahasiswa Fakultas Rekayasa Industri Telkom University, Salma, mengatakan bahwa mereka sedang mengembangkan aplikasi start-up Sorgumollogy untuk mempromosikan dan menjual produk sorgum. Selain itu, mereka bekerja sama dengan kelompok tani untuk mengembangkan sorgum dari segi produk.
“Kami membantu kelompok tani Sorgum untuk mengembangkan produknya lebih baik, mulai dari desain kemasan, logo, hingga strategi pemasaran lainnya,” kata Salma.
