600 Hari Konflik Gaza, Analis Israel Soroti Kegagalan Operasi Militer
BERITA TERBARU INDONESIA, TEL AVIV— Media-media Israel menyoroti hari ke-600 konflik Gaza, mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Sosok yang menjadi perhatian Mahkamah Pidana Internasional (ICC) ini dikritik karena melanjutkan konflik tanpa tujuan akhir yang jelas.
Media Israel juga membahas posisi Tel Aviv dalam negosiasi untuk mencapai gencatan senjata baru dan perjanjian pertukaran tahanan, serta alasan di balik perang berkepanjangan ini.
Menurut laporan Alon Ben-David, analis militer Channel 13, setelah 600 hari konflik, tujuan utama yaitu membebaskan para tawanan yang diculik dan menundukkan Hamas belum tercapai.
Raviv Drucker, analis politik di Channel 13, menyatakan keyakinannya bahwa rasa malu Netanyahu atas serangan 7 Oktober 2023 tidak dapat dihapus meski para tawanan kembali dan gencatan senjata tercapai. Drucker menekankan bahwa Netanyahu tidak memiliki visi yang jelas dan lebih mengandalkan kekuatan.
Mantan Kepala Staf Israel, Gadi Eisenkot, mengungkapkan detail yang terjadi dalam rapat Kabinet pada 25 Oktober 2023 terkait keputusan operasi darat di Jalur Gaza. Dalam pertemuan tersebut dipaparkan tujuan perang dan rencana untuk membubarkan Hamas serta membangun rezim sipil baru di Gaza.
Namun, menurut Eisenkot, rencana tersebut terhambat karena perbedaan tujuan di antara anggota Kabinet, yang memiliki pandangan berbeda mengenai Jalur Gaza, termasuk opsi pemerintahan militer dan pemukiman kembali.
