Skip to content
logo-Berita-Terkini-Indonesia

BTI

Liputan Berita Terkini Indonesia

Primary Menu
  • Home
  • pemerintahan
  • Politik dan Hukum
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Hak Asasi Manusia
  • Home
  • Ekonomi
  • Pemerintah: Data Garis Kemiskinan BPS Lebih Tepat untuk Kebijakan Nasional
  • Ekonomi

Pemerintah: Data Garis Kemiskinan BPS Lebih Tepat untuk Kebijakan Nasional

Dedi Saputra Juni 17, 2025
pemerintah-garis-kemiskinan-bps-lebih-relevan-untuk-kebijakan-nasional

Pemerintah: Data Garis Kemiskinan BPS Lebih Tepat untuk Kebijakan Nasional

BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Pemerintah menegaskan bahwa data garis kemiskinan (GK) dari Badan Pusat Statistik (BPS) lebih akurat mencerminkan situasi kemiskinan di Indonesia. Penegasan ini menanggapi perbedaan angka dengan data kemiskinan yang dirilis oleh Bank Dunia.

Data terbaru dari Bank Dunia mengindikasikan bahwa 68,3 persen penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan negara berpendapatan menengah atas pada 2024. Sementara itu, menurut BPS, tingkat kemiskinan di Indonesia per September 2024 adalah 8,57 persen.

“Meskipun angka dari Bank Dunia berguna untuk analisis global, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa tingkat kemiskinan nasional yang diukur oleh BPS tetap menjadi referensi paling tepat untuk pembuatan kebijakan nasional,” ujar Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Dedek Prayudi, dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (16/6/2025).

Dedek menjelaskan bahwa tingkat kemiskinan oleh BPS diperoleh melalui pendekatan yang mempertimbangkan pola konsumsi lokal, variasi harga regional, dan realitas sosial-ekonomi. Faktor-faktor ini dianggap lebih mencerminkan kondisi ekonomi nasional dan kebutuhan spesifik masyarakat Indonesia.

Oleh karenanya, Pemerintah Indonesia akan terus menggunakan garis kemiskinan dari BPS sebagai acuan dalam menyusun kebijakan.

“Seperti yang telah disampaikan BPS, perbedaan garis kemiskinan nasional dan internasional berasal dari perbedaan tujuan keduanya. Garis kemiskinan internasional berfungsi sebagai tolok ukur global, sementara garis kemiskinan nasional disesuaikan dengan relevansi kebijakan domestik,” tambah Dedek.

Pemerintah juga menegaskan fokusnya pada pengentasan kemiskinan. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dialokasikan untuk memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia (SDM), sementara anggaran infrastruktur dilanjutkan dengan partisipasi pihak swasta. Menurut Dedek, langkah ini diambil demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Khususnya, Dedek menyoroti upaya spesifik pemerintah dalam mengatasi kemiskinan, yaitu dengan berinvestasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan nutrisi, terutama melalui program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Pendekatan ini menggarisbawahi keyakinan Presiden Prabowo bahwa pengentasan kemiskinan yang berkelanjutan harus dimulai dari pembangunan modal manusia, bukan hanya dukungan jangka pendek,” ungkapnya.

Dedek juga mengutip pernyataan Kepala PCO, Hasan Nasbi, yang menyatakan bahwa pemerintah mengadopsi Indeks Deprivasi Multidimensi (MDI) sebagai dasar dalam kebijakan pengentasan kemiskinan. Indeks ini dikembangkan oleh Kementerian Keuangan, UNICEF, dan Universitas Indonesia (UI).

Sementara itu, Kementerian Keuangan melalui Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) Tahun 2026 juga menekankan bahwa kemiskinan bukan hanya persoalan pendapatan, tetapi juga mencakup akses terhadap air bersih, gizi, pendidikan, dan kondisi hidup yang layak.

“Yang penting bukan angkanya, tetapi memastikan bahwa setiap orang, termasuk anak-anak, memiliki alat untuk berkembang,” tegas Dedek.

Sebelumnya, Bank Dunia juga menyatakan bahwa garis kemiskinan yang dirilis oleh BPS lebih relevan untuk mengukur tingkat kemiskinan nasional Indonesia maupun menjadi acuan bagi kebijakan suatu negara.

Sementara itu, data kemiskinan yang dirilis Bank Dunia merupakan pengukuran internasional yang bertujuan menjadi tolok ukur dalam memantau kondisi kemiskinan global serta membandingkan antarnegara. Perbedaan tersebut sengaja diterapkan karena Bank Dunia menggunakan pendekatan berbeda dari pemerintah tiap negara, sesuai dengan tujuan masing-masing pengukuran.

Continue Reading

Previous: Bank Dunia: Garis Kemiskinan BPS Lebih Tepat untuk Indonesia
Next: Transformasi Menakjubkan, Tampilan Baru Candi Muaro Jambi

Related News

  • Ekonomi

Peningkatan Premi BRI Insurance Mencapai 13,3 Persen

Intan Permatasari Agustus 11, 2025
  • Ekonomi

Pesanan Naik 113 Persen di GIIAS 2025, Chery Sasar Pasar Bandung dengan Produk Baru di Mall PVJ

Rina Kartika Agustus 11, 2025
konsesi-pelabuhan-saatnya-investasi-berbicara-lebih-dari-sekadar-angka
  • Ekonomi

Konsesi Pelabuhan: Waktu untuk Investasi Membuktikan Diri Lebih dari Sekadar Angka

Intan Permatasari Agustus 10, 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
auto7slot auto7slot auto7slot

You may have missed

  • Berita

Juru Bicara Gus Yaqut Tanggapi Larangan Bepergian KPK, Berikan 4 Pernyataan

Dewi Anjani Agustus 12, 2025
lewat-gpm-polres-indramayu-jaga-stabilitas-harga-dan-ringankan-beban-masyarakat
  • Berita

Melalui GPM, Polres Indramayu Pertahankan Stabilitas Harga dan Bantu Masyarakat

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
kereta-pelabuhan-dan-terminal-di-sulsel-akan-terhubung-begini-rencana-kemenhub
  • Berita

Integrasi Kereta, Pelabuhan, dan Terminal di Sulsel: Rencana Kemenhub

Rizky Maulana Agustus 12, 2025
viral-meme-tanah-nganggur-diambil-negara-menteri-nusron-minta-maaf-ini-penjelasan-maksudnya
  • Berita

Meme Tanah Nganggur Jadi Viral, Menteri Nusron Meminta Maaf, Berikut Penjelasannya

Dedi Saputra Agustus 12, 2025
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.