Esensi Sebuah Transformasi
Tahun Baru Hijriah 1447 H menandai babak baru dalam perjalanan spiritual umat Muslim. Namun, ini lebih dari sekadar mengganti kalender. Ini adalah tentang menata kembali jiwa, memperbaiki langkah, dan memperkuat arah. Kita semua menyadari, waktu yang kita miliki tidaklah panjang. Ini bukanlah ancaman, melainkan pengingat penuh kasih: bahwa setiap detik adalah kesempatan, dan setiap hari adalah peluang untuk menabur amal demi masa depan yang kekal.
Mengapa kita perlu bersiap? Karena dunia ini bukan tempat tinggal yang abadi, melainkan sekadar persinggahan yang sangat singkat. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menunda perbuatan baik. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah, jangan menunggu tua untuk beribadah, jangan menunggu tenang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hidup tidak pernah menunggu kesiapan kita; sebab yang diharapkan justru kesiapan itulah yang akan menyelamatkan kita.
Sebagai umat Islam di Indonesia—negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia—kita patut bersyukur dan bangga. Namun, kebanggaan itu tidak boleh berubah menjadi kesombongan. Justru kita mempunyai tanggung jawab besar: menunjukkan bahwa mayoritas dapat menjadi pelindung, bukan penekan; pembawa kedamaian, bukan kegaduhan. Semangat Tahun Baru Islam semestinya juga dapat dirasakan oleh umat lain—bukan untuk mengubah iman mereka, tetapi untuk membawa kesejukan, menunjukkan bahwa Islam di negeri ini adalah berkah, bukan ancaman.
Namun sayangnya, sebagian dari kita masih terjebak dalam cara dakwah yang melukai hati. Kita melihat bagaimana media sosial, mimbar, dan ruang publik kadang diisi oleh suara-suara keras: menghina keyakinan orang lain, mencaci pilihan berbeda, dan memelihara dendam atas nama kebenaran. Padahal, dakwah yang menyakiti akan menutup pintu hati. Dakwah yang merendahkan justru menjauhkan umat dari Islam itu sendiri. Kita perlu kembali pada akhlak Rasulullah: menyampaikan dengan lembut, namun menggugah. Menegur dengan hikmah, tetapi membangkitkan. Di sinilah letak moderasi: bukan melemahkan iman, tetapi menguatkan adab.
Sebagai Guru Besar Moderasi Beragama di Universitas Busan, saya berinteraksi dengan mahasiswa dan cendekiawan dari berbagai bangsa dan agama. Dari dialog-dialog itu, saya belajar bahwa dunia menaruh harapan besar pada Islam Indonesia. Harapan pada Islam yang tidak keras kepala, tetapi teguh pada pendirian. Islam yang tidak alergi pada perbedaan, tetapi tumbuh subur di tengah keragaman yang diciptakan oleh Allah SWT.
