Wamen LH: Aktivitas Manusia Menjadi Penyebab Krisis Iklim
BERITA TERBARU INDONESIA, MAKASSAR – Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, menekankan bahwa krisis iklim yang saat ini kita hadapi bukan hanya fenomena alam, tetapi bencana yang dipicu oleh aktivitas manusia. Dalam pidatonya saat peluncuran Gerakan Eco-Dhamma di Makassar, Minggu (29/6/2025), Diaz menekankan pentingnya kesadaran kolektif terhadap jejak emisi yang kita tinggalkan setiap hari.
‘Jakarta, Semarang, dan Makassar kini panas bukan sekadar karena musim, tetapi karena bencana iklim yang disebabkan aktivitas manusia. Kita semua terlibat,’ ujarnya.
Diaz merujuk pada laporan para ilmuwan dunia yang telah lama menyatakan bahwa aktivitas manusia bertanggung jawab atas sebagian besar pemanasan global yang memicu krisis iklim selama dua abad terakhir. Dalam konteks ini, ia menyebut Eco-Dhamma sebagai inisiatif penting yang menghubungkan spiritualitas dengan tanggung jawab ekologis.
Dalam rilis Kementerian Lingkungan Hidup pada Senin (30/6/2025), Diaz mengatakan bahwa berbagai aspek kehidupan manusia seperti konsumsi listrik, transportasi, konstruksi, dan pengelolaan sampah adalah kontributor utama emisi gas rumah kaca.
‘Satu ton sampah bisa menghasilkan 1.700 kg karbon dioksida ekuivalen. Di Jakarta saja setiap hari ada 7.500 ton, Bandung 2.500 ton, dan Makassar 1.000 ton,’ ungkapnya.
KLH/BPLH, lanjut Diaz, siap memberikan dukungan teknis dalam penerapan Eco-Dhamma, terutama dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.
‘Kami siap memberikan asistensi melalui Kapusdal Sulawesi dan Maluku, termasuk potensi pembentukan bank sampah dan kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) terkait,’ ujarnya.
Ketua Umum Permabudhi, Philip K. Widjaja, menjelaskan bahwa Eco-Dhamma adalah upaya untuk menyelaraskan nilai-nilai ajaran Buddha dengan pelestarian lingkungan. Ia menyebut gerakan ini sebagai wujud spiritualitas yang terintegrasi dengan praktik ekologis.
‘Konsep ekologi ini kami angkat sesuai ajaran agama. Kami ingin menyelaraskan arah pembangunan, baik fisik maupun spiritual,’ kata Philip.
