AI Bisa Berbahaya Jika Tak Disikapi dengan Bijak: 3 Pendekatan Islami Menurut UBN
BERITA TERBARU INDONESIA, BOGOR—Fenomena kecerdasan buatan (AI) saat ini memiliki kemiripan dengan tantangan yang dihadapi ilmuwan Muslim terdahulu saat menghadapi renaisans filsafat Barat.
Hal ini diungkapkan oleh Ustadz Bachtiar Nasir dalam Studium Generale bertema “Melawan Fitnah Rasionalisme Ekstrem di Tengah Revolusi AI”, yang digelar pada Senin (30/6/25). Acara ini juga menandai akhir dari kegiatan belajar mengajar Semester Genap Tahun Akademik 2024/2025.
“AI pada masa lampau mungkin serupa, hanya saja saat itu pemikiran dituangkan dalam buku, sementara kini dalam bentuk visual,” jelas UBN.
UBN menganggap AI sebagai alat yang sangat kuat untuk mempercepat pengetahuan dan keterampilan. Namun, AI juga membawa risiko besar jika tidak dihadapi dengan kebijaksanaan.
“AI tidak menggantikan pekerjaan manusia, tetapi mereka yang ahli dalam AI akan menggantikan mereka yang tidak menguasainya. Karena AI mendemokratisasi ilmu pengetahuan dan teknologi, siapa pun bisa menjadi hebat jika tahu cara menggunakannya,” tambah UBN.
Lebih lanjut, UBN membahas bahaya rasionalisme ekstrem, yaitu saat akal menjadi satu-satunya sumber kebenaran, mengabaikan nilai-nilai spiritual, dan menyerahkan penilaian moral kepada mesin.
“Ini adalah krisis makna. Ketika algoritma diberi hak untuk menilai benar-salah, manusia kehilangan otonomi moralnya,” tutur alumni Universitas Islam Madinah ini.
Sebagai solusi, UBN menyarankan tiga strategi utama dalam menghadapi AI secara Islami. Pertama, literasi teknologi, yaitu memahami cara kerja AI agar tidak terjebak dalam mitos netralitas. Kedua, etika Islam, menilai penggunaan AI berdasarkan prinsip kemaslahatan dan nilai-nilai syariat.
Ketiga, integrasi iman dan akal, menjadikan AI sebagai alat, bukan sebagai “tuhan baru” dalam kehidupan manusia.
Studium Generale ini menjadi momen strategis bagi STIQ Ar-Rahman dalam menyiapkan kader-kader dai Qurani yang tidak hanya kuat dalam ilmu keislaman, tetapi juga tangguh menghadapi era digital.
Dengan semangat tadabur Alquran dan wawasan keilmuan yang luas, kampus ini berkomitmen melahirkan generasi pendakwah yang mampu menjembatani nilai-nilai wahyu dan teknologi demi kemaslahatan umat dan peradaban Islam yang berkelanjutan.
Acara yang berlangsung di Aula KHBN STIQ Ar-Rahman ini menghadirkan Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) sebagai pembicara.
Hadir pula dalam acara tersebut jajaran pimpinan kampus dan yayasan, termasuk Ketua Yayasan Pusat Peradaban Islam Buya Iswahyudi Mukhlis Lc MA, Ketua STIQ Ar-Rahman Dr Haris Renaldi M Pd, para ketua unit AQL Islamic Center, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh mahasiswa.
Dalam sambutannya, Dr Haris Renaldi menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran KH Bachtiar Nasir untuk menyampaikan materi yang sangat relevan dengan tantangan zaman.
“Tema ini sangat penting, khususnya bagi para mahasiswa yang sebentar lagi akan kembali ke masyarakat. Mereka perlu dibekali dengan wawasan kritis dan spiritual untuk menghadapi derasnya arus perkembangan teknologi dan pemikiran kontemporer,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pusat Peradaban Islam, Buya Iswahyudi menegaskan bahwa penguasaan teknologi, terutama AI, adalah sebuah keniscayaan yang harus dimiliki oleh generasi muda Muslim.
Dia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga aktor yang mampu menentukan arah dan nilai dari perkembangan teknologi itu sendiri.
“Saya berharap kepada mahasiswa dan mahasiswi, jadikan ilmu yang diperoleh hari ini sebagai bekal yang sangat berharga untuk dikembangkan di masa depan. Seperti yang sering disampaikan gurunda kita bahwa ke depan yang dibutuhkan adalah dai-dai yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga menguasai teknologi,” tegas Buya Iswahyudi.
