‘Buddy Pekerti’ Libatkan Ratusan Guru sebagai Agen Anti-Bullying di Sleman
BERITA TERBARU INDONESIA, YOGYAKARTA — Berdasarkan informasi dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, pada tahun 2024 tercatat 22 anak yang menjadi korban kekerasan di sekolah.
Hal ini menunjukkan bahwa perundungan atau bullying menjadi masalah serius.
Ruber Innovation Lab bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Yogyakarta dan Paragon Corp menyelenggarakan gerakan sosial berupa sesi Training of Trainer (ToT) melalui gerakan anti perundungan #1MYouthsStopBullying menggunakan media kreatif Buddy Pekerti, yang akan dilaksanakan di empat kabupaten dan satu kota di Yogyakarta.
Dalam langkah awal ini, sesi ToT melibatkan 150 perwakilan kepala sekolah, guru bimbingan konseling (BK), dan siswa dari 50 SMA di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Kegiatan berlangsung di Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman pada Kamis, 3 Juli 2025.
“Bullying di sekolah adalah masalah yang sangat serius, namun bukan tidak dapat diatasi. Kuncinya adalah kesabaran dan bertahap,” ungkap Agus Harianto, CEO Ruber Innovation Lab sekaligus fasilitator dari sesi ini.
Dwi Agus Muchdiharto, SH, MA, Kepala Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman menjelaskan bahwa inisiatif gerakan anti perundungan #1MYouthsStopBullying ini sangat baik dan akan diimplementasikan pada 50 perwakilan SMA di Kabupaten Sleman yang hadir pada sesi ToT kali ini, dalam program masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) untuk semester ganjil 2025/2026.
“Perwakilan dari 50 SMA yang hadir dalam sesi ini akan menjadi contoh dan memiliki tugas untuk meneruskan inisiatif gerakan anti perundungan #1MYouthsStopBullying di lingkungan sekolah masing-masing melalui program MPLS,” tambahnya.
Peserta sesi ini menerima materi tentang bullying dan cara mengenalinya oleh Ratih Ratnasari, M.Psi., psikolog dari Emina. Mereka juga belajar cara penanggulangannya dengan menggunakan permainan kartu Buddy Pekerti.
Alat ini menggunakan pendekatan edukatif dan interaktif untuk mengatasi masalah bullying di sekolah, dengan mengajak pemain duduk melingkar dan berbicara secara mindfulness.
Alat ini menumbuhkan nilai percaya diri, growth mindset, dan empati peserta sehingga mereka dapat lebih tangguh terhadap bullying di sekolah.
Selain itu, peserta juga berkesempatan mengikuti analisis warna dari Wardah untuk menemukan kombinasi warna yang cocok dengan undertone kulit mereka, yang berbeda untuk setiap orang. Mengetahui kombinasi warna yang tepat dapat meningkatkan rasa percaya diri.
“Saya senang mengikuti sesi ToT Buddy Pekerti ini karena mendapatkan cara baru untuk mencegah bullying di sekolah,” ujar Nurul Kurniati Rahayu, perwakilan Guru BK dari SMA N 1 Sleman.
Dengan merangkul calon pelaku maupun korban, diharapkan dapat meminimalisir perilaku bullying. Selain itu, ia dapat mempraktikkan langsung penggunaan Buddy Pekerti sebagai gambaran untuk sesi MPLS nanti.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan dukungan dari instansi pendidikan, inisiatif gerakan #1MYouthsStopBullying menjadi langkah nyata menuju lingkungan sekolah yang lebih aman dan inklusif bagi semua siswa.
Diharapkan, melalui pelatihan kreatif berbasis media Buddy Pekerti dan keterlibatan aktif guru dan siswa, pesan anti perundungan tidak hanya berhenti di ruang pelatihan, tetapi mengakar dalam budaya sekolah sehari-hari.
Ini adalah momentum bagi Yogyakarta untuk menjadi pelopor gerakan pendidikan yang berani bersuara dan bertindak melawan bullying.
Ruber Innovation Lab adalah ruang yang dapat diakses generasi muda untuk merumuskan inovasi di berbagai sektor guna memberikan dampak luas terhadap masalah lingkungan masyarakat secara berkelanjutan.
Fokus Ruber Innovation Lab adalah pengembangan produk sosial, pengembangan individu, inovasi terbuka & ruang kreatif, keterlibatan & kolaborasi komunitas, serta pelaporan dampak.
Bersama BERITA TERBARU INDONESIA, Ruber Innovation Lab berkolaborasi dalam melakukan pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan di Indonesia.
