Potensi PNBP Tak Capai Target, Pemerintah Cari Penerimaan dari Sumber Lain
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Keuangan terus berusaha meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sejumlah sektor selain setoran dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Peningkatan ini dilakukan mengingat setoran dividen BUMN kini dialihkan ke Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Kementerian Keuangan kini mengandalkan optimalisasi pendapatan dari sektor sumber daya alam (SDA), layanan kementerian/lembaga (K/L), serta Badan Layanan Umum (BLU).
- Tom Lembong Dituntut 7 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Importasi Gula
- Wow! Pacu Jalur Mendunia Lewat Tren Aura Farming
- Indonesia Pangkas Impor LPG dari Timur Tengah, Fokus Tambah Pasokan dari AS
“Untuk PNBP dari target APBN sebesar Rp513,6 triliun, kemungkinan hanya tercapai Rp477,2 triliun. Hal ini karena Rp80 triliun dividen yang seharusnya masuk ke APBN kini diserahkan ke Danantara,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, di Jakarta, Jumat (4/7/2025).
Dengan situasi tersebut, realisasi PNBP diproyeksikan hanya mencapai 92,9 persen dari target. Namun, pemerintah berusaha memitigasi agar dampak negatif dari perpindahan dana tersebut tidak sepenuhnya terwujud.
Sri Mulyani menyatakan bahwa pihaknya berupaya menekan potensi kehilangan pendapatan hingga setengahnya, dengan menambal sisanya melalui penerimaan baru.
“Dengan beberapa langkah, kita akan mengurangi mitigasi sehingga perbedaannya mungkin hanya sekitar Rp40 triliun. Artinya, PNBP mencari tambahan penerimaan baru sebesar Rp40 triliun sehingga koreksi Rp80 triliun tidak seluruhnya muncul di sana,” tuturnya.
Meskipun demikian, Sri Mulyani menekankan bahwa keberadaan Danantara memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional. Badan pengelola investasi itu dinilai mampu mendorong arus investasi besar, terutama pada sektor-sektor strategis dan bernilai tambah tinggi.
Dengan strategi diversifikasi dan optimalisasi PNBP dari berbagai sektor, pemerintah berharap kesinambungan fiskal tetap terjaga tanpa terlalu bergantung pada setoran dividen BUMN.
Sementara itu, Direktur Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Rofyanto Kurniawan menegaskan bahwa upaya penambalan kehilangan penerimaan dilakukan dengan mengandalkan potensi dari sektor lain.
Sektor tersebut antara lain PNBP SDA nonmigas, layanan K/L, dan kontribusi BLU.
“Nah, otomatis dengan adanya penerimaan dari PNBP yang lain, ini paling tidak bisa mengurangi dividen yang seharusnya masuk, terus tidak jadi masuk,” jelasnya.
Ia mencontohkan, penerimaan dari Badan Layanan Umum (BLU) yang pada semester I 2025 ditargetkan sebesar Rp30 triliun ternyata melampaui ekspektasi. Begitu pula dengan PNBP dari K/L yang menunjukkan kinerja di atas target.
“PNBP-PNBP K/L, kemudian BLU-BLU, itu kan ternyata penerimaannya meningkat, jadi lebih tinggi dari yang ditargetkan di APBN. Jadi otomatis kan bisa menutup yang tadi shortfall dari dividen BUMN,” ungkap Rofyanto.
Hingga semester I 2025, realisasi total PNBP telah mencapai Rp222,9 triliun atau sekitar 43,4 persen dari target tahunan. Capaian ini ditopang oleh PNBP SDA nonmigas sebesar Rp55,5 triliun, SDA migas sebesar Rp47,2 triliun, PNBP lainnya seperti hibah dan hasil penjualan produk pendidikan sebesar Rp68,1 triliun, serta BLU sebesar Rp40,3 triliun.
Setoran dari dividen BUMN yang tercatat dalam pos Kekayaan Negara yang Dipisahkan (KND) masih sebesar Rp11,8 triliun.
