Amerika Serikat Akan Mengakhiri Insentif Pajak untuk Kendaraan Listrik
BERITA TERBARU INDONESIA, WASHINGTON — Pemerintah Amerika Serikat telah resmi mengakhiri skema insentif pajak untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV) setelah Kongres menyetujui rancangan undang-undang perpajakan dan anggaran terbaru pada Kamis, 3 Juli 2025. Berdasarkan laporan yang diterima pada Jumat, 4 Juli 2025, kebijakan ini akan menghapus insentif senilai 7.500 dolar AS untuk pembelian atau sewa mobil listrik baru, serta 4.000 dolar AS untuk mobil listrik bekas, yang akan berlaku mulai 30 September mendatang.
Kelompok advokasi elektrifikasi kendaraan, Electrification Coalition, mengemukakan bahwa keputusan ini melemahkan posisi Amerika dalam persaingan otomotif global, terutama terhadap dominasi China. Mereka menyatakan, “Ketika kendaraan listrik semakin menguasai pasar otomotif dunia, masa depan transportasi jelas adalah listrik. RUU ini secara efektif menyerahkan peran utama Amerika kepada China,” dalam pernyataan resminya.
Kredit pajak EV pertama kali diperkenalkan pada tahun 2008, dengan batas 200 ribu unit per produsen. Pada 2022, aturan ini diperluas untuk mencakup kendaraan sewaan dan menghapus batas kuota per produsen. Namun, dalam RUU terbaru, insentif ini akan dihentikan sepenuhnya.
Industri otomotif AS juga akan mendapat manfaat lain dari dihapuskannya sanksi atas pelanggaran standar konsumsi bahan bakar (Corporate Average Fuel Economy/CAFE). Kebijakan ini memberikan ruang lebih longgar bagi produsen untuk kembali memproduksi kendaraan berbahan bakar fosil.
Analis otomotif dari Barclays, Dan Levy, memprediksi akan ada lonjakan pembelian mobil listrik selama tiga bulan ke depan sebelum insentif resmi dihapus. “Akan terjadi pembelian besar-besaran, di mana konsumen akan mempercepat pembelian untuk menghindari kenaikan harga setelah penghapusan insentif. Namun setelahnya, penjualan diperkirakan akan turun tajam,” tulis Levy dalam risetnya.
Ia juga menambahkan bahwa penghapusan insentif ini merupakan sinyal perlambatan penetrasi mobil listrik di AS. “Baik insentif maupun regulasi ketat kini mulai dilonggarkan,” katanya.
Sebuah studi dari Universitas Harvard pada Maret 2025 menyatakan bahwa penghapusan insentif ini akan mengurangi penetrasi EV sebesar enam persen hingga tahun 2030, tetapi juga mampu menghemat anggaran pemerintah sekitar 169 miliar dolar AS dalam satu dekade ke depan.
Dalam versi final RUU tersebut, Kongres juga membatalkan rencana pengenaan iuran tahunan sebesar 250 dolar AS untuk mobil listrik serta membatalkan kewajiban menjual armada kendaraan listrik milik Layanan Pos AS (USPS).
