Pembukaan Cabang Baru di Jalan Kaliurang, Nasi Goreng Juwadi Tetap Jaga Cita Rasa Sejak 1990
BERITA TERBARU INDONESIA, SLEMAN — Kuliner legendaris selalu memiliki tempat spesial di hati para pencinta rasa autentik. Nasi Goreng Kambing dan Sapi Juwadi, atau yang lebih dikenal sebagai Nasi Goreng Juwadi, telah membuka cabang baru di Jalan Kaliurang KM 14 sejak 1 Juni 2025.
Pembukaan cabang ini adalah langkah strategis dari generasi kedua untuk memperluas pasar sembari mempertahankan cita rasa yang telah terkenal lebih dari tiga dekade. Tidak mengherankan, lokasi baru ini dipilih di kawasan yang juga menjadi pusat mahasiswa.
“Kami buka pada 1 Juni 2025. Kami memilih lokasi ini karena di sepanjang jalan ini belum ada nasi goreng kambing,” ujar Indah Budi Rahayu, pendiri usaha kuliner ini yang pertama kali berdiri pada 1990 kepada BERITA TERBARU INDONESIA, Selasa (8/7/2025) malam.
Menariknya, cabang baru ini memperluas pasar mereka dan menarik pelanggan baru terutama kalangan muda dan mahasiswa mengingat lokasinya yang dekat dengan kampus.
Indah menceritakan bahwa inspirasi awal dari nasi goreng ini berasal dari kecintaannya terhadap nasi goreng kambing yang ia temui di Jakarta. Menyadari belum adanya kuliner serupa di Yogyakarta saat itu, ia pun berani menciptakan versinya sendiri dan mulai berjualan di depan SD Serayu, Jalan Juwadi, Kotabaru.
Tak disangka, antusiasme pelanggan saat itu sangat positif sehingga membuat usaha kuliner ini berkembang dan dikenal luas, tidak hanya di kalangan masyarakat Yogyakarta tetapi juga wisatawan yang datang. Hebatnya, banyak pelanggan dari era 1990-an yang masih setia membeli. Bahkan, beberapa di antaranya rela datang dari jauh hanya untuk menikmati rasa yang tak pernah berubah.
“Ada yang dulu mahasiswa, sekarang sudah punya anak, tetap datang dan bilang rasanya masih sama,” ungkapnya.
Asal Nama Juwadi
Nama ‘Juwadi’ ternyata tidak muncul sejak awal. Natasya Budi Ayu Satriadita, sang anak sekaligus pendiri cabang baru Nasi Goreng Kambing dan Sapi Juwadi, menjelaskan bahwa nama tersebut bukan karena branding yang disengaja, melainkan kebutuhan teknis saat mendaftarkan usaha di aplikasi pemesanan online.
Akhirnya, mereka menambahkan nama Jalan Juwadi, lokasi pertama kali mereka berjualan. Nama tersebut akhirnya melekat dan menjadi penanda khas bagi para pelanggan.
“Dulu namanya hanya Nasi Goreng Kambing dan Sapi di Jogja, begitu saja namanya. Tetapi karena masuk di aplikasi online, kami tambahkan spesifiknya,” kata Natasya yang akrab disapa Tata.
Ia juga menyampaikan bahwa meneruskan bisnis keluarga bukanlah rencana matang sejak awal. “Sebenarnya kemarin itu aku tidak terpikir akan meneruskan cabang dari usaha mama. Hanya waktu itu ngobrol sama mas (suami-Red), bagaimana usaha punya mama kalau tidak dikembangkan kan sayang,” ujar Tata.
Beranjak dari sini dan dengan dukungan penuh dari keluarga, cabang ini menjadi langkah awal ekspansi serius dari bisnis keluarga yang dulunya hanya dikenal secara lokal di sekitar Kotabaru. Bagi Natasya, pembukaan cabang baru ini bukan sekadar bisnis, melainkan tanggung jawab untuk menjaga warisan.
“Kita harus bisa mempertahankan usaha yang sudah ada sejak 1990 ini,” ucap Tata.
Ia memastikan bahwa di cabang baru ini akan tetap mempertahankan resep dasar. Namun, ia tak menutup kemungkinan bahwa ke depannya akan ada sedikit modifikasi untuk menjangkau dan mengakomodir selera pelanggan yang lebih luas.
“Kalau modifikasi yang sudah kita lakukan ada tambahan menu nasi goreng telur. Jadi tidak pakai daging tidak pakai apa-apa, hanya nasi goreng dan telur saja. Mungkin ke depannya akan kita tambahkan nasi goreng bakso,” ungkapnya.
Strategi Ekspansi dan Target Pasar
Arif Singa, co-founder cabang baru Nasi Goreng Kambing dan Sapi Juwadi, mengatakan bahwa cabang di Jalan Kaliurang ini bukan yang terakhir. Mereka memiliki rencana jangka panjang untuk memperluas jangkauan nasi goreng legendaris ini.
“Rencananya akan membuka cabang lagi. Target kita tiga bulan sekali akan buka cabang, tapi akan kita riset dulu, yang jelas selalu dekat dengan kampus,” ujarnya.
“Pokoknya Joglosemar dan harapannya bisa ada di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Ia optimistis bahwa ekspansi ini juga menjadi bentuk pelestarian kuliner turun-temurun. Meski baru berjalan sebulan, cabang Kaliurang sudah menunjukkan respons yang sangat positif. Singa mengungkap banyak pelanggan datang karena penasaran, namun justru kembali karena rasa makanan yang konsisten dan khas.
Bahkan, di cabang baru ini, mahasiswa yang belum pernah mencicipi sebelumnya pun menjadi pelanggan tetap.
“Tentunya menjaga masakan dari generasi pertama ke generasi kedua, karena ada data riset itu 70 persen UMKM itu mati, jadi sayang tidak diteruskan oleh generasi berikutnya. Apalagi Jogja ini top kuliner, kalau kulinernya mati, pariwisatanya mati juga,” ungkapnya.
“Pasar sudah mulai bergerak. Nasi goreng ini kan legend, pelopor, jadi kita menjual nasi goreng ini tidak terlalu susah. Jadi tidak perlu jauh-jauh lagi ke Kotabaru, bisa di sini,” ucap Singa.
Pembukaan cabang baru ini pun mendapat apresiasi dari Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang hadir dan mencicipi langsung. “Rasanya masih sama dari dulu. Lokasinya strategis, dan bisa jadi ikon kuliner malam yang baru di sini,” ujarnya.
