Rupiah Turun ke Rp 16.513, Dolar AS Tetap Menjadi Faktor Utama
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Pada hari Jumat (1/8/2025), nilai tukar rupiah ditutup melemah. Taufan Dimas Hareva dari Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) menyatakan bahwa pelemahan kurs rupiah dipengaruhi oleh kemungkinan Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan datang.
“Sentimen negatif ini muncul dari data ekonomi Amerika Serikat yang kembali kuat, terutama data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) dan ketenagakerjaan,” ujarnya di Jakarta, Jumat.
- Kejagung Masih Tunggu Keppres Abolisi untuk Tom Lembong
- Bank Mega Syariah Mencapai Pertumbuhan DPK 18 Persen Lewat Strategi Digital
- Pemecatan Pendamping Desa Cacat Administrasi, Wakil Ketua Komisi V: Putusan Ombudsman Harus Ditaati
Menurut Xinhua, kenaikan inflasi AS membuat The Fed mempertimbangkan apakah akan mempertahankan atau menurunkan suku bunga pada akhir tahun ini. Data ini muncul sehari setelah The Fed mengumumkan bahwa mereka akan mempertahankan suku bunga.
Secara tahunan, PCE naik menjadi 2,6 persen, lebih tinggi dari perkiraan. PCE Inti juga naik 0,3 persen bulanan dan 2,8 persen year on year dari ekspektasi 2,7 persen.
Selain itu, investor global sedang menunggu rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) yang bisa menjadi penentu arah kebijakan moneter AS selanjutnya.
Ketidakpastian mengenai suku bunga ini memicu pelaku pasar untuk beralih ke aset berbasis dolar AS, sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.
“Penguatan dolar AS secara global menjadi faktor utama tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek,” ungkap Taufan.
Taufan menambahkan bahwa pergerakan kurs rupiah ke depan akan sangat dipengaruhi oleh data tenaga kerja AS malam ini serta reaksi investor terhadap kebijakan The Fed dalam menghadapi inflasi yang belum mereda.
The Fed tetap mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25-4,5 persen pada bulan ini meskipun ada tekanan dari Gedung Putih untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Seperti diungkapkan oleh Xinhua, keputusan ini mencerminkan pendekatan ‘wait and see’ The Fed dalam memantau dampak besar tarif AS terhadap inflasi.
Hasil FOMC menunjukkan bahwa tingkat pengangguran AS tetap rendah, kondisi pasar tenaga kerja solid, dan inflasi cukup tinggi.
Meskipun ada indikasi bahwa ekonomi AS sedang booming, inflasi tetap berada di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2 persen.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Jumat di Jakarta melemah 57 poin atau 0,35 persen menjadi Rp16.513 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.456 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke level Rp16.494 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.459 per dolar AS.
