Indeks Saham Syariah Meroket 17,9 Persen menurut OJK
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan perkembangan terbaru mengenai saham syariah di Pasar Modal Indonesia. Sepanjang tahun 2025 hingga awal Agustus, saham syariah menunjukkan peningkatan signifikan.
“Mengenai pasar modal syariah, data menunjukkan hasil yang sangat positif. Ini terlihat dari Indeks Saham Syariah Indonesia atau ISSU yang per 8 Agustus 2025 ditutup pada angka 254 poin, mengalami kenaikan 17,9 persen year to date (ytd),” ujar Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Aditya Jayaantara dalam konferensi pers perayaan HUT ke-48 Pasar Modal Indonesia di Gedung BEI, Jakarta, Senin (11/8/2025).
Menurut catatan dari IDX, pertumbuhan ISSI tahun ini adalah yang tertinggi setidaknya dalam enam tahun terakhir. ISSI sebelumnya mengalami beberapa fluktuasi antara tahun 2019 hingga 2025.
Pada 2020, selama pandemi Covid-19, ISSI mengalami penurunan hingga -5,46 persen, berada di level 177,48 dari 187,73 pada 2019. Kemudian pada 2021, ISSI naik 6,50 persen menjadi 189,02, dan terus tumbuh 15,19 persen pada 2022.
Meski pada 2023 ISSI mengalami kontraksi sebesar -2,34 persen menjadi 212,64, namun kembali melonjak pada 2024 menjadi 215,65. Pertumbuhan tertinggi dicapai pada tahun 2025 dengan kenaikan 17,96 persen.
“Market cap secara year to date mencapai Rp 8.485,79 triliun, meningkat 24,33 persen,” tambah Aditya.
Secara historis, kapitalisasi pasar saham syariah di pasar modal Indonesia juga mengalami fluktuasi, namun berbeda dengan ISSI, market cap cenderung mengalami pertumbuhan yang konsisten.
Secara rinci, kapitalisasi pasar adalah Rp 3.744,82 triliun pada 2019, turun 10,68 persen menjadi Rp 3.344,93 triliun pada 2020. Market cap pada 2021 naik 19,10 persen menjadi Rp 3.983,65 triliun, dan bertumbuh 20,14 persen menjadi Rp 4.786,02 triliun pada 2022. Pertumbuhan berlanjut dengan 28,41 persen pada 2023 menjadi Rp 6.145,96 triliun dan bertambah 11,05 persen pada 2024 menjadi Rp 6.825,31 triliun. Kemudian, pada 2025 hingga 8 Agustus kembali naik signifikan menjadi Rp 8.485,79 triliun.
